• RSS
  • Facebook
  • Twitter
31
March
Comments

Never think that still water doesn’t have crocodiles, never take for granted a peaceful outlook since danger may lurk beneath.

Didalam kaca mata risiko, pepatah diatas menggambarkan bahwa suatu aktivitas yang sangat kondusif, tenang dan tidak ada terlihat suatu gejolak atau permasalahan jangan dikira bahwa risiko atas aktivitas tersebut tidak ada, karena dalam setiap aktivitas, potensi risiko tetap ada dan sewaktu-waktu bisa meledak.

Contohnya adalah keruntuhan Daiwa Bank Cabang New York (November 1995) yang hanya disebabkan oleh salah seorang pejabatnya yang bernama Toshihide Iguchi. Toshihide Iguchi merupakan Penanggung Jawab Divisi Trading yang juga mengepalai bagian back office. Selama kurun waktu 11 tahun masa kepemimpinannya (1984-1995), Toshihide Iguchi melakukan 30.000 kali transaksi ilegal dengan total kerugian sekitar USD 1,1 M yang tercatat sebagai salah satu kerugian terbesar dalam sejarah keuangan dunia. Dan kecurangan (fraud) ini baru diketahui setelah Toshihide Iguchi mengakui perbuatannya sendiri pada tanggal 13 Juli 1995.

Selain kerugian secara finansial, pada bulan November 1995, Federal Reserve memerintahkan Daiwa Bank untuk mengakhiri operasinya di AS, sehingga pada Januari 1996 Daiwa setuju menjual hampir semua aktivanya di AS senilai USD 3,3 M ke Sumitomo Corp. Dan di tahun 1998, Presiden Daiwa Bank waktu itu, Takashi Kaiho, menyampaikan dalam suatu jumpa pers bahwa Daiwa menutup cabang-cabangnya diluar negeri dan akan fokus sebagai bank regional dan membatasi usahanya melayani divisi ritel dan kustodian. Dan akhirnya pada 2001 Daiwa Bank merger dengan beberapa bank dan berubah menjadi Daiwa Bank Holdings. setelah mengakuisisi Asahi Bank pada 1 Maret 2002, Daiwa berubah nama menjadi Resona Holdings, Inc pada 1 Oktober 2002.

Contoh Bank Daiwa diatas menggambarkan bahwa betapa besarnya dampak yang ditimbulkan oleh suatu kecurangan (fraud) yang dilakukan oleh hanya 1 orang karyawan yang tidak terdeteksi oleh manajemen. Memang suatu pekerjaan yang tidak gampang untuk mendeteksi potensi risiko tersebut, namun 50% kejadian risiko adalah kejadian yang dapat dicegah sepanjang didukung dengan perangkat pengendalian yang tepat.

Tanpa suatu pengendalian yang tepat, kesempatan dan peluang terjadinya kecurangan (fraud) tersebut sangat terbuka lebar, untuk itu perlu diwaspadai hal-hal yang dapat memicu timbulnya kecurangan (fraud) dimaksud, dan menurut Leipoldt (2008) dalam seminar manajemen risiko operasional baru-baru ini, ada beberapa situasi yang harus diwaspadai, antara lain seperti:

1. Jangan Terlalu Percaya Pada Hasil Kerja

Kepercayaan yang terlalu tinggi kepada bawahan seringkali menjadikan sebagian manajer mengabaikan prinsip pengendalian internal diunit kerjanya. yang harus dilakukan manajemen adalah bahwa setiap manajer boleh dan dapat percaya kepada orang-orang dilingkungan kerjanya tetapi jangan percaya mentah-mentah atas hasil pekerjaannya, untuk itu diperlukan check and balance.

Apapun yang dilakukan oleh pekerja yang menjadi orang kepercayaan pemimpin unit kerja biasanya tidak terlalu “dicurigai”. Padahal disitulah letak kelemahan seorang pemimpin yang dapat dimanfaatkan oleh pekerja tersebut. Apakah kemudian akan terjadi internal fraud? Hal tersebut sangat tergantung pada integritas pekerja, situasi dilingkungan kerja atau bahkan lingkungan keluarganya.

2. Efek negatif pemberian bonus

Untuk mengejar target bisnis, bank seringkali mencurahkan hampir keseluruhan sumber daya yang dimiliki untuk kepentingan dan memfasilitasi pengembangan bisnis. Salah satunya adalah dalam hal pemberian bonus dan insentif terhadap petugas/karyawan yang diberikan target bisnis. Kondisi ini dapat memicu petugas/karyawan mengabaikan risiko dan merugikan perusahaan hanya untuk mengejar bonus. Demi bonus, seorang karyawan dapat saja mengabaikan prinsip kehati-hatian dan begitu kejadian kerugian terjadi maka karyawan tersebut akan berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi kegagalan atau kerugian tersebut. Bila berlangsung dalam jangka waktu lama, maka bank tengah menunggu bom waktu kehancurannya.

3. Aktivitas support sebagai anak tiri

Kebanyakan manajemen tidak terlalu memberikan perhatian pada aktivitas yang hanya dianggap sebagai support. Unit kerja support seperti sesuatu atau unsur pelengkap dari suatu organisasi. Dia harus hadir atau ada dalam struktur orgnisasi, tapi tidak menjadi prioritas untuk dikembangkan, bahkan untuk diperhatikan secara serius. Sehingga pekerja pada unit kerja support kurang memilliki pengetahuan yang memadai, karena kurang pelatihan atau pembinaan. Akibatnya pekerja yang seharusnya dapat mengevaluasi dan menganalisis eksposur risiko dilingkungannya tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan mengatasi dan mencari solusi atas permasalahan secara kritis dan komprehensif.

4. Pelaksanaan cuti yang terabaikan:

Adalah suatu aturan baku bagi perusahaan untuk memberikan hak cuti kepada pekerjanya. Beberapa bentuk cuti pun tersedia disetiap perusahaan dengan syarat dan ketentuan yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Namun demikian, selain dikatakan cuti adalah hak pekerja, sebetulnya cuti adalah merupakan kewajiban bagi pekerja. Artinya cuti harus dilaksanakan karena merupakan bagian penting bagi manajemen risiko operasional.

Beberapa kejadian fraud atau kejadian kerugian bank terungkap justru ketika pekerja yang melakukan atau terlibat fraud tersebut sedang melaksanakan cuti, dan pekerjaannya sedang digantikan oleh pekerja yang lain. Bagi bank yang sudah memahami betul arti pentingnya cuti, pelaksanaan cuti tiap pekerja diawasi dengan ketat. Pekerja yang tidak melaksanakan cuti padahal sudah diberikan konpensasi atau tunjangan cuti akan mendapat teguran keras.

Categories: Risiko Operasional

11 Responses so far.

  1. unai says:

    lama lama aku mulai paham tulisan2mu ttg manajemen risiko ini var. hehe tambah ilmu baru dunk ;)

  2. Yari NK says:

    Internal fraud memang biasanya disebabkan karena internal control yang lemah ditambah sistem yang kurang sempurna sehingga banyak fihak dapat bekerja sama untuk menciptakan fraud tersebut. Justru aktivitas yang biasanya tenang bisa merupakan sarang terjadinya fraud apalagi orang lengah karena mengira bahwa yang tenang biasanya mudah dikendalikan dan mudah diperbaiki jikalau ada sesuatu yang salah di dalam sana…..

    avartara: Terimaksih atas tambhannya Pak,…… yups yang tenang biasanya menghanyutkan

  3. TRAVELLOUS says:

    Bro! ulasan mu ini menarik, saya sekarang jadi berpikir, apakah di setiap bank selalu ada internal fraud seperti ini? yang tersembunyi? apalagi kerugian yg di timbulkan ternyata gak main2. Beuuh!

    avartara: setiap Bank tentunya tak terlepas dari permasalahan internal fraud ini bro,….. tentunya pernah dengar kasus Fraud yang dialami oleh Bank2 di tanah air ini,…. :)

  4. Sebuah analisa yang tajam dan menarik bang, pasti sertifikasi manajemen resiko abang dah level tinggi nih. Saya cuma bisa mengatakan takjub dan salut dengan tulisan abang, untuk point ke 2 bang ditempat saya bekerja benar-benar diperhatikan,karena karyawan adalah asset perusahaan dan hal ini dilakukan juga untuk kesejahteraan karyawan sehingga kemungkinan untuk Internal fraud sangat kecil bang.

    avartara: Wah saya belum punya level ri,… masih belajar juga,… maksih atas tambahannya,.. slam semangat

  5. edratna says:

    Analisis yang bagus, karena pada dasarnya masalah yang berat adalah pada unsur manusia nya. Sebagus apapun sistem manajemen risiko di Bank, yang mengoperasikan adalah manusia. Target kadang membuat orang menghalalkan cara, melakukan window dressing agar mendapat bonus.

    Cuti wajib diperlukan, juga mutasi, agar selalu berganti, banyak sekali fraud ditemukan saat ybs sedang cuti atau telah pindah ke unit lain.

    avartara: Memang itu permasalahannya bu,…. kadang demi bonus,… pegawai menghalalkan segala cara,.. maksih atas masukannya bu

  6. eppi-cool says:

    Internal Fraud harus sedini mungkin dicegah, ya…salah satunya penguatan kinerja pengawasan, jangan sampai keduluan kejadian…….capek. Jadi pencegahan pasti lebih baik, kalau konteksnya perbankan mereka harus didisi oleh orang-orang terbaik, dididik sebaik mungkin, kayak nih P’ Avartara.

    Avartara: maksih atas tambahannya Pak Eppi,…. wah jadi tambah lengkap neh

  7. kellyamareta says:

    baru kepikiran tuh arti cuti bagi perusahaan
    tapi oke juga tuh kalo ada aturan harus cuti
    kesannya kaya perusahaan sangat perduli pada karyawannya

    avartara: bukan kesannya mbak,…. memang harus diperhatikan,….. maksih udah mampir

  8. hmmmm
    ***manggut2

    avartara: Manggut2 juga

  9. Herlan says:

    Fraud disebabkan terjadinya kesenjangan sosial antara karyawan yang mana pihak management slalu mengutamakan orang2 yang dekat dgn nya dan berlaku tdk adil terhapad karyawan lain.

  10. tian says:

    ulasan yang menarik….. terima kasih atas sharingnya….. manusia yang tamak, sistem yang lemah dan manajemen yang ( kelihatannya )tidak adil memang dapat memicu terjadinya fraud…

  11. baju couple says:

    bagus ne infonya gan.. info lainnya juga oke2 ne gan.. bertambah lagi wawasan saya.. mantap.. :)

Leave a Reply


CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

Komunitas Jiwa

  • Komunitas Blogger Sumbar
  • .
  • .
  • .