• RSS
  • Facebook
  • Twitter
17
November
Comments

Judul diatas adalah salah satu puisi pujangga ternama Indonesia, Taufik Ismail. Puisi yang berjudul “Tuhan Sembilan Senti” nyasar ke e-mail saya pagi ini. Pengirimnya sohib lama semasa nguli dahulu kala (1999 Masehi-2004 Masehi).

Jreng…. Baris pertama puisi langsung saya baca “Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok” kemudian baris berikutnya “tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok”. Saya berhenti sejenak sambil matikan rokok yang lagi dihisap dalam-dalam (maklum ngerasa tersindir). Kemudian lanjut lagi, jret jret ops,..berhenti lagi pada baris “di kantor pegawai merokok” (emang) trus baca lagi lagi lagi lagi, dann berhenti di baris “bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok” (apa istri saya juga ngerasa kaya gitu ya) Astaghfirullah….Saya merasa “kerdil” saat baca puisi yang satu ini.

Menurut data yang sempat saya kumpulkan, bahwa ternyata untuk Provinsi Sumatera Barat saja Rokok (yang dibagi lagi menjadi 2, rokok kretek filter dan rokok kretek) termasuk 5 besar kategori komiditi penyumbang inflasi terbesar di Sumatera Barat. Kalau ditotal atas nama Rokok, maka rokoklah penyumbang terbesar inflasi di Sumatera Barat (Rokok Kretek Filter dengan share 0,19% dan rokok kretek 0,08%).

Setelah beberapa menit akhirnya puisi itu selesai saya baca. Terdiam sejenak dan memandang rekan sejawat yang ada diruangan kantor saya. Ada 2 (dua) orang yang lagi ngerokok. Sambil tertawa ringan saya posting tulisan ini.

Berikut Puisi “Tuhan Sembilan Senti”

Tuhan Sembilan Centi

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Taufiq Ismail

Categories: celoteh jiwa

41 Responses so far.

  1. marshmallow says:

    wah, benar-benar hebat sajaknya! pantas da helfi terkelu membacanya.
    mudah-mudahan tak hanya terkelu, tapi bisa bantu memotivasi agar berhenti menjadi perokok.
    biarpun indonesia surga bagi perokok, saya tak pernah ingin termasuk sebagai penghuni surganya, biarlah sebagai penghuni nerakanya atau barisan orang-orang yang tidak merokok saja (dalam konteks rokok loh ya?)

    salam, da. senang blog ini akhirnya di-update juga. hehe!

  2. Alex says:

    akan semakin banyak tuhan-tuhan baru di dunia ini…….
    spt…sex, liberalisme, kapitalisme, deelel….

  3. unai says:

    saya heran juga, kenapa rokok bisa sedemikian dipuja. Padahal saya lihat orang merokok itu aneh. Asap dihisap, lalu dihembuskan. Enaknya apa??? Puisi yang panjang dan bagussss, no wonder…penciptanya juga orang hebat.

    BTW kamu ngerokok? pemuja 9 cm juga dong ;)

  4. habis makan yang dicari rokok…..di depan komputer sambil merokok….lelah bekerja..istirahat sambil merokok…..ternyata rokok itu hebat….karya-karya besar lahir dalam bau rokok…stres berkurang karena rokok….dan sekarang banyak juga perempuan yang merokok….

  5. Sarah Luna says:

    Jadiii??, kapan berhenti jadi pemuja “si 9 senti” ini???, Entah kenapa saya juga benci rokok. Mungkin karena bau nya itu kali yahh.. Walau kadang *hanya KADANG loh ya!!* menurut saya cewe yg ngerokok itu keren. hihihi..

  6. Candu Ombak

    kami memang terpiuh
    nasib yang mengayun candu
    ombak tak berbadai
    gulita yang agung

    menyentak buhul pilu
    menangisi nasib pongah
    saat malam tak lagi berhujan mimpi
    dan tempuling kami terpinjam
    tabiat jantan menghujam sejarah rumpang

    mereka pesta di arus naif
    pada semak-semak delta
    desau saja aku dengar bisik-bisik:
    tepian ini hanya puak kami!

    mualku bangkit
    menatap kekosongan…
    Tarandam, November

  7. meiy says:

    mestinya ditempelin di tempat2 umum yo avar..ah semoga uni bisa ke padang nanti yo, doakan saja avar, agar murah rezeki waktu, kesehatan, uang…heheh…byk bgt mintanya

  8. Eko Madjid says:

    Miris ketika membaca puisi ini. Untuang awak dak ikutan pulo marokok… :D

  9. avartara says:

    @ da Max:
    Hahaha,.. Plurk,… sepertinya perlu posting yg itu tuh

    @ Ni Marshmallow:
    Saya selalu berusaha uni,… tuk tak jadi penghuni surganya

    @ Alex:
    Ya Pak,…. semuanya bisa jd pujaan

    @ Unai:
    Hu uh,.. aneh juga ya nai,… tapi saya akan berusaha untuk tak jadi pemuja

    @ Esha si Biru langit:
    Wah wah,… mantaps tuh tambhannya…. salam kenal ya

    @ Sarah luna:
    Trus apakah pernah merokok?

    @ Pak Abdullah Khusairi:
    Wah maksih pak,.. dikasih puisi tambhan

    @ Ni Mey:
    Yups uni,… Ntar klu dah di padang kasih kabar ya uni

    @ Eko madjid:
    Syukur Pak,.. ga kecanduan

  10. ricnes says:

    ayo da….
    jgn sampai tataran terdiam, tersinggung dan malu serta merasa bersalah ama istri saja da….
    ayo maju ketataran berhenti mengisap yg 9 senti itu…
    jgn sampai mendewakan aplagi mengtuhankan….
    ayo maju ketataran mengajak org tuk berhenti merokok….
    ayo maju ketataran yg lebih lagi….
    uda bisa kok berhenti…
    knp ga!???
    ayo semangat da……

  11. Saya perokok pasif yang begitu menderita….
    secara saya bisa langsung sesak mendadak karena bau rokok :(

  12. Duh abang……..sejuta bintang pujian aku alamatkan untuk karya abang yang ini. kalau aku melihatnya dari segi peradok politiknya mengenai,dari hal pemasarannyapun mengena dan tentu saja gaya penyentilan tuk sesuatu yang terkadang ngggak banget tuk di nikmati.
    aku suka di bait…para ulama ahli hisap itu……..
    ada kentara yang aku dapat menyibak arti dan khasanah dari perkalimat tersebut.hebat abangku hebat,
    salam hangat selalu
    keren bang

  13. Istantina says:

    Wahai para perokok yg thormat,

    Plis donk ah… Kasihanilah para perokok pasif yg cuma kena imbasnya..

  14. agunk agriza says:

    wkwkwk..
    keren banget syair/puisinya itu ..

    jaman smakin maju,
    radio sebesar gajah skrg bisa jd jam tangn,
    bahkan tuhanpun kini jadi 9 cnti.

    salam kenal ;)

  15. avartara says:

    @ Ricnes:
    Saya akan berusaha,.. do’akan saya ya

    @ Tukang obat bersahaja
    Maafkan para perokok aktif ya

    @ Dobleh:
    Bukan puisi saya bleh,.. ini punyak Om Taufik ismail,…

    @ Istantina:
    Salam kenal ya

    @ Agunk agriza:
    Hahahha,.. yups zaman yg semakin maju,… salam kenal kembali,….

  16. bisena says:

    Wah, keren sajaknya. sebenarnya saya setuju, dan saya juga tidak suka merokok. Tapi untungnya disekitar saya nga banyak orang yang ngerokok

    Avartara: Syukur deh Mas,…. jadi tetap sehat selalu

  17. Biru Langit says:

    Untuk bapak2 yang sudah terlanjur cinta banget dengan rokok
    Renungkanlah puisi ini…..
    Anda berinvestasi dengan penyakit dalam jangka waktu yang panjang
    Saatnya mengaplikasikan manajemen risiko untuk kesehatan anda

    Wassalam

    Avartara: hahahaha,.. ide yang menarik ini,.. aplikasikan manajemen risiko untuk kesehatan anda

  18. edratna says:

    Saya kadang nggak mengerti, apa sih nikmatnya merokok…walau kata perokok, merokok adalah sumber inspirasi. Tapi kenapa yang tidak merokok juga bisa mendapatkan inspirasi? Berarti alasan tadi juga terlaku menyederhanakan.

    Teman saya dua orang meninggal, terkena kanker paru-paru, hanya gara-gara menjadi perokok pasif, suaminya yang merokok.

    Avartara: Kadang sugesti seperti itu selalu muncul bu,…. Maksih atas semangatnya,…. semoga jiwa ini mau mengerti

  19. Arif says:

    Merokok kok nikmat :)

    Sorry jangan protes … dulu saya perokok ternyata lebih enak nggak merokok

    Avartara: Saya akan berusaha

  20. imoe says:

    Saya orang tak perokok. Senin yang lalu saya ngajak teman-teman muda talkshow di RRI soal rokok, terutama kami menggugat tentang iklan rokok. Betapa bahaya iklan rokok tersebut, membuat anak muda terdorong ingin merokok. Pusisi TUHAN sembilan SENTI itu juga sudah lama kami milki pak. Dalam waktu dekat kami akan melakukan riset menghitung seberapa banyak iklan rokok di padang dan mulai januari kami akan advokasi pemerintah dan publik mengenai persoalan rokok dan iklannya. Kami tidak anti dengan orang yang merokok, tapi kami ingin ajak orang yang merokok untuk menyelamatkan anak bangsa. Setidaknya dengan mengendalikan perilaku merokok agar tidak sembarangan…(pada tempat tertentu).

    Nilai rupiah dari cukai rokok tak sebanding dengan biaya jaminan kesehatan yang akan dikeluar negara jika membiarkan anak-anak hari ini merokok.

    AYO BERGABUNG BERSAMA KAMI

    Avartara: Saya sangat salut dengan kepedulian Pak Imoe,… disisi orang2 masih sibuk berdiskusi,.. pak imoe datang dengan aksi nyata,…

  21. sarah says:

    Sajaknya bagus n makna yg tersirat didalamnya begitu dalam,Saya memang ga suka merokok krna sy cew x ya..& ga terlalu suka jg lihat cow yg merokok mungkin karna dilingkungan kel sy yg merokok hanya ayah sy itu pun dulu sekarang sdh tidak lg,kakak & adik laki2 sy pun tidak merokok,sy ga suka dengan asapnya itu loh n baunya yg menyengat, paling ga suka lg bila dalam sebuah bus kota didalamnya ada yg merokok,tanpa sadar seorang perokok telah menjadi pendonor penyakit terbesar untuk orang2 disekelilingnya,karna perokok pasif lebih berbahaya drpd perokok aktif,jd tanpa sadar anda telah berdosa dengan orang2 disekeliling anda,mulailah berusaha untuk meninggalkan sedikit demi sedikit kebiasaan merokok,dengan niat kebaikan untuk diri sendiri n orang lain sy yakin perlahan kebiasaan itu akan hilang.
    tks//sarah

    avartara: maksih semangatnya sar,… dan maksih dah berkomentar,…. salam

  22. Rokok emang kejam! :(

    Avartara: Kejam?

  23. ai says:

    hendri merokok tuh…padahal dah ai bilangin bahaya merokok, heran deh sebenernya alasan utama merokok itu apa sih, sampai2 orang bisa cerai gara2 dilarang merokok

    avartara: Haa,.. ada yang cerai ai,.. kasus dimana itu

  24. madaff says:

    @Ai
    Hah,ai mo cerai gara2 ngelarang hendry ngerokok?? *cari tivi mo nonton gosip, eh ga punya tivi*hehehe….
    Selamat berjuang yo Da…kasian anak kalo apaknyo marokok…masak anak di cekoki racun, yo ndak da??

    avartara: Maksih semangatnyo uni,… ambo harus bisa

  25. 7171 says:

    kalo awak nan indak parokok ko apo nan tacium dek bini awak yo.?????hhhhmmmmmmmmm…jadilah seperti saya helfi, tahan banting diantara para perokok….

    avartara: Hehehee,… mantap itu mah Da 7171,.. seandainya bisa,.. btw maksih telah berkomentar ya

  26. Di negara-negara barat, perokok dianggap warga negara kelas dua, kelas bawah, dsb. Saya harap suatu hari di sini pun akan begitu :)

    avartara: semestinya iya mbak,…. maksih atas semangatnya

  27. Deddy says:

    Dibeberapa kota besar sudah ada larangan merokok di tempat umum, but dasar org kita ngelesnya lebih hebat, kadang ada org yg merokok sambil duduk dan dibelakangnya ada tulisan no smoking hahahaha, mantap da

    Avartara: Iya Pak dedy,… bener itu,.. kadang kesadaran yang belum kita punya

  28. selamat malam abangku ini.
    kemanakah semangat yang abang miliki hingga tak aku baca lagi karyanya?
    salam hangat selalu

  29. untuk perokok mungkin doanya lain kali ya.
    “Tuhan, beri aku sepuluh centi lagi!” :)

    Avartara: hahaha,.. bisa aja neh

  30. kidungjingga says:

    Keponakan saya, yang masih belajar baca bilang… “om.. jangan ngerokok, ngerusak janin loh…..”

    lah de.. emang janin apaan?

    stop smoking! setidaknya jangan deket2 saya deeehhhh….

    avartara: hehehe,… iya mbak kidung jingga

  31. Roffi says:

    ya.. saya tetap ga bisa ninggalin rokok.. salam kenal!

    Avartara: Mari kita berusaha aja bro, salam kenal

  32. travellous says:

    Ough baca ini ak langsung tertohok (tentu nya sambil mematikan rokok di tangan)

    So, jujur Bro, dikau apa sudah berhenti merokok? daku jujur saja belum :p

    Avartara: Belum sepenuhnya bro,…. tapi telah banyak berkurang

  33. therunk says:

    wah. rokok..
    saya hanya merokok pas kepingin aja
    tapi kok sering tuh kepinginnya
    jadi susah berhenti :(
    ada solusinya ga
    selain *stopmerokok.com

    avartara : Saya juga sedang mencari solusinya bro,… ntar klu ketemu saya posting deh,… salam

  34. selamat malam bang
    selamat menikmati sajian akhir pekan bersama sang kekasih hatinya serta keluarga abang disana
    salam hangat selalu

    Avartara: Maksih Banyak Bleh,…. semoga tetap semangat

  35. lovepassword says:

    Taufik Ismail emang rada menakutkan. Hi Hi Hi. Puisinya keren ya ?

    avartara: Hehehehe,… maksih telah mampir

  36. Leah says:

    Puisi yang bagus !
    Mestinya para perokok, pemilim pabrik rokok dan distributornya baca ini biar mereka mikir bagaimana keuntungan yang mereka raup itu telah menimbulkan bahaya laten nikotin !
    Hmm..untung pacar saya bukan perokok.

    Btw, apa kabar ?
    Mampir dong ke “rumah baru” saya…. :p

  37. takodok! says:

    jadi, bang? hehehe.. perokok itu menurut saya orang2 cerdas dan pemberani! Iya, cerdas. Iya, berani mengambil resiko ^^
    Dan, semestinya masalah ini yang bertanggung jawab adalah kedua pihak : perokok aktif dan pasif. Yang aktif sadar diri, yang pasif mau menegur kalo memang ndak suka ada yg merokok di dekatnya (dengan cara sopan).

    Lama ndak maen kesini, apa kabar? *halah, tiap hari maen plurk jg* :p

    hahahaha,.. gud gud gud,….. Kabar baik Des,…. kemana aja *ketemu teman lama*

  38. hasanalbanna says:

    Hehe.. nyari2.. ketemunya disini..
    Izin Copas mas y..
    sekalian mampir silaturrahim..
    Jzk..

    Silahkan,…. maksih telah mampir ya

  39. lintang says:

    rokok…kenapa orang suka dengan sumber penyakit ini ya? salam kenal

    Hehehehe,.. salam kenal kembali

  40. Tulisan yang menarik Mas. Memang Tuhan 9 senti ini tidak gampang dikalahkan. Saya sampai sekarang masih berpikir bagaimana caranya mengeluarkan rokok dari lingkungan kerja agar karyawan lebih sehat, lebih produktif.
    Pernah beberapa kali buat terobosan untuk menghilangkan rokok tapi cukup banyak penolakan juga. Ya dicoba lagi secara bertahap.

    tetap diusahakan Mas,…. kadang merubah budaya itu memang susah

Leave a Reply


CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

Komunitas Jiwa

  • Komunitas Blogger Sumbar
  • .
  • .
  • .