Tragedi Kemiskinan
Sungguh suatu pukulan hebat bagi kemiskinan di negara kita, 21 orang meninggal sia-sia hanya demi uang sebesar 30 ribu rupiah. Tragedi yang begitu memilukan jiwa itu terjadi di Pasuruan, Jawa Timur, setelah seorang warga yang semula berniat berderma dengan pembagian zakat namun berbuah bencana.
Begitu parahkah kemiskinan pada bangsa ini? hingga demi 30 ribu rupiah, ada yang rela mengorbankan jiwa. Memang penyebab bencana itu adalah tidak terkoordinasinya acara pembagian zakat tersebut, namun pada hakikatnya adalah membludaknya peserta yang ingin mendapatkan jatah cuma-cuma. Banyaknya peserta menggambarkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita berjuang demi menyambung hidupnya, walau ajal menjadi tantangan.
Memang dizaman ini terlalu susah membedakan keadaan. Setan dan malaikat tampil dalam wajah yang sama. Disatu sisi, rakyat miskin begitu susahnya memenuhi kebutuhan pokok mereka, disisi lain orang pintar Negeri ini dengan entengnya mengumumkan biaya pembuatan kartu pemilih sebesar 1,2 T rupiah. Disatu sisi, rakyat mengemis demi menyambung hidup sehari-hari, disisi lain uang begitu murah untuk dihamburkan membiayai partai-partai yang terdaftar.
Itulah rakyat miskin dinegeri ini, selalu dieksploitasi. Apalagi akhir-akhir ini, kemiskinan menjadi senjata ampuh dalam berbagai kampanye. Dengan entengnya para calon berjanji akan memberangus kemiskinan, padahal berapa jumlah rakyat miskin didaerah pemilihannya saja belum tentu mereka ketahui. Namun apa hendak dikata, janji dinegeri ini sangat mudah diucapkan namun terlalu sulit untuk dilaksanakan.
Bercermin dari tragedi kemiskinan ini, satu hal yang patut disadari bahwa kita belum sepenuhnya merdeka, merdeka dari kemiskinan dan kebohongan jiwa dan entah sampai kapan kata sejahtera dapat terwujud dibumi Nusantara ini. Wallahu’alam
Subscribe to the RSS feed and have all new posts delivered straight to you.



![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)
Turut Berduka yang sangat mendalam,…. semoga tidak akan terulang
Terulang lg ya Da, setelah BLT yg jg makan korban… Galau, risau, marah, sedih, dll berkecamuk di hati saat dengar dan lihat kejadiannya… entahlah…
mari kita bikin negara sendiri
hilangkan provinsi² yang hanya minta “jatah” ke provinsi lain.. atau tegakkan otonomi daerah yang benar² murni
mungkin sebaiknya sebelum pembagian sumbangan, zakat, sembako, ato apalagi pokoknya mbagi2 gitu wajib dilaporkan ke rt ato rw (kecuali di daerah bencana)dan dikawal polisi atau tentara. lalo yang gag lapor n dikawal dianggap kegiatan ilegal dan penyelenggaranya dihukum, meskipun tujuannya baik tapi kalo akhirnya kejadian seperti ini ya…
@bang hendri
aku malah pengennya balik ke sentralisasi lagi bang, percuma kalau desentralisasi tapi tiap2 daerah jalannya berlainan arah apalagi kalau sampe gontok2an.
sentralisasi tapi fleksibel, dan pemimpinnya ngga diktator tapi tegas
Hal serupa juga pernah terulang beberapa tahun yang lalu… yg menjadi pertanyaa, knp Pemerintah ataupun pihak2 terkait masih memberikan ijin??
kenapa orang tidak percaya lagi dengan badan zakat yah??
sungguh tragis nasib orang2 itu
waktu abang ngasih tau berita ini (aku malas nonton TV), aku marah, benciiiii…langsung terbayang para koruptor sialan yg menggerogoti negeri ini. negeri kita hancur krn korupsi avar, menurutku. korupsi moral, korupsi harta negara,
Sebuah bencana yang patut diambil pelajaran berharga….
Saatnya Badan Amil Zakat Nasional mengambil peran yang lebih besar, sosialisasi keberadaannya dan kemudahan membayar zakat. Selama ini masyarkat cenderung menyalurkan sendiri karena ketidaktahuan adanya Badan Amil Zakat Nasional
semua cuma karena ga mau disiplin,
coba ibu-ibu itu mau antri dan bersabar,
pasti ga ada kejadian kaya gitu…
setuju sama pendapatnya bang danu. mustinya ibu-ibunya bisa lebih sabar. bulan puasa… sabar bukkk…
Tragedi itu adalah riak di permukaan sementara yang perlu di tangani adalah arus [kemiskinan] dibawah permukaan yang mengakibatkan gelombang.. pengentasan kemiskinan adlaah bukan hanya semata tanggungjawab pemerintah, namun lebih kepada shared-responsibility dari citizen [warga negara-nya] untuk berperan lebih dalam memberdayakan kaum marginal.
Program anak-asuh misalnya..
Have you guys thought about this? Sharing is caring..
Mengiris hati memang,…itulah potret wajah kita sebenarnya..Sebagian kita bisa berkata,”Ya,ampun! Dua puluh rebu gitu loh!” Tapi bagi mereka itu besar…Kalau tidak ingat uang dua puluh ribu bisa beli satu liter beras, seperempat minyak goreng, satu liter minyak tanah,dan sedikit ikan asin,untuk anak-anak mereka, mereka tidak akan mungkin mau berjuang,berdesak-desakan di sana…
Dan, dimanakah kita pada saat itu?
akankah pendidikan mengurangi kemiskinan yg berakibat kematian?
http://mywrotes.wordpress.com/2008/09/19/pendidikan-indonesia-kelak/
kita2 yg orang byasa aja miris denger & liyat britanya…
apalagi para “yang terhormat” yg pesta cek & uang sogokan itu yah? demi Rp30rb rakyat miskin berdesak-desakan menyabung nyawa, adilkah itu? mungkin pancasila sila ke 5 perlu di-”amandemen”, karena kemandulannya
Negara harus melindungi, bukan membiarkan, kalau tidak ada arti negara ini, bubarkan saja! Kalau ada pertemuan atau hajatan melebih 500 orang, biasanya intelijen sudah ada….. negeri ini memang sering jatuh pada lobang yang sama…..
http://abdullahkhusairi.wordpress.com/2008/09/17/opini-massa-pasuruan-2/
Aku membaca ini menangis…
Ya Allah, Ya Tuhanku… di Indonesia ini emang ya, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin, Duuh Gusti!
seharusnya Zakat tak mesti melalui cara pemberian secara langsung,(ya mungkin aza untuk cari muka) bisa lewat mesjid/bagian yang mengurus Zakat.
ya…kadang sulit untuk kita bayangkan,antara kelaparan,kemiskinan dan tangisan anak-anak yang membuat orang tua tak tahu mesti berbuat apa-apa.30 ribu sangat berharga buat mereka,tapi uang tak didapat malah nyawa melayang!
Mungkin…Indonesia akan susah bangkit,kalau penduduk Indonesia belum sehati,tidak bergandeng tangan,dan masih menyimpan rasa egois atau mementingkan diri sendiri.
Saya pernah baca bagaimana negara Cina,menyelesaikan utang luar negeri,setiap rumah,harus menyisihkan 1 biji beras setiap kali/hari,akhirnya dalam beberapa lama menghasilkan beras yang sangat banyak dan mampu melunasi utang luar negeri.
Bisakah rakyat Indonesia berbuat begitu?
Hal-hal yang kecil kalau kita sehati,saling bergandeng tangan,aku yakin Indonesia bisa lepas dari semua ini.
Semoga Indonesia bisa maju,bisa lebih baik!