Sakit hati, marah, kecewa dan berbagai perasaan buruk lainnya menghinggapi saat meyaksikan persidangan pansus century dengan beberapa saksi beberapa hari ini. Sakit hati yang sebenarnya sangat mudah untuk diakhiri, hanya dengan mematikan televisi, namun mata ini tetap terpaku pada sumber munculnya penyakit hati.
Siang malam mata dan telinga ini dicerca dengan gambaran demokrasi yang berkembang dinegeri ini melalui diskusi para petinggi negeri. Walau saya tidak mengikuti dengan sungguh jalannya sidang, karena pekerjaan yang menghadang, namun telinga tetap mendengar dengan lantang setiap kalimat yang terucap baik dari anggota pansus maupun para saksi.
Memang apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan harapan. Dalam persidangan, para saksi tak ubahnya seperti seorang terdakwa. Pertanyaan-pertanyaan para anggota pansus banyak yang mencerca, bahkan ada yang memaksa dengan setengah berteriak dan ada pula kalimat makian yang terlontar antar sesama anggota pansus yang terhormat. Memang belum sampai pada tahap saling lempar sepatu atau lempar kursi, namun dalam keadaan sadar mereka tahu bahwa segala tindak tanduknya disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Suatu suguhan teater politik negeri ini, yang menggambarkan kedewasaan para petinggi negeri.
Kadang muncul pertanyaan dalam hati, untuk apa semua ini? Apakah uang rakyat masih bisa dikembalikan lagi? Atau malah hanya akan menambah kebocoran dana lebih besar lagi, karena untuk mengetahui apakah benar ada penyelewengan dalam proses penyelamatan Bank Century saja, negara harus mengeluarkan biaya 2,7 M. Apa gunanya kita memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi, Lembaga peradilan yang siap menghakimi? Entahlah, mungkin saya yang terlalu bodoh hingga sampai saat ini belum juga mengerti, atau inilah harga bagi sebuah demokrasi.





![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)

Hampir satu bulan ini, semenjak proses pindah rumah. Saya udah nggak menyentuh televisi lagi. Makanya saya nggak tahu gimana perkembangan politik di Indonesia. Tapi saya manfaatin internet untuk mengikuti perkembangan berita mulai dari penjara mewah si Ayin, Anggoro jadi tersangka, penyelidikan dari Budiono sampai JK. Kasus Century sendiri saya juga kabur tentang gimana nanti hasil akhirnya, mas.
negara tanpa pemimpin avar, hanya ada penguasa, orang2 yg berebut kursi..Ya Allah, memang miris…negeri kita.
uni jarang BW, update jg sesekali…baiak sajo kan diak
Saya juga menonton sidang pansus Bank Century ini. Saya sendiri juga tidak terlalu mengerti apakah pansus ini adalah jalan yang terbaik atau tidak. Saya hanya berharap bahwa waktulah yang akan menunjukkan apakah sidang pansus ini adalah langkah yang tepat atau tidak. Dan jikalau pansus ini ternyata adalah tindakan yang kurang tepat, saya tetap berharap bahwa bangsa ini mau belajar dari kesalahan tersebut sambil juga berharap bahwa bangsa ini mau terus-menerus belajar…
good post… rasanya ini bukan soal dana 6,7 T yg raib ato 2,7 M utk biaya panitia angket. Tapi ini soal demokratisasi. Syarat syah penegakan hukum adalah menguatnya demokrasi di negeri ini. Bukankah demokrasi itu mahal harganya?!
tanpa lelah blue menyaksikan teatre tersebut om
dan tak lelah mengikutinya
salam dalam kehangatan musim
p cabar
biarkan blue dengan keliaran yg beda y om disini
entah mengapa kasus century semakin menjadi topik yang paling fenomenal. koran jawa pos kemarin malah memberitakan adanya perdebatan antara srimulyani dan pak jk. setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata ada banyak hal yang telah dimanipulasi untuk beberapa golongan tertentu. katanya udah sesuai prosedur, tapi kenyataannya malah membingungkan masyarakat seperti kita.
waduh kok jadi mas ava dilematis
hihiih.. ya gak di tonton kan bisa lihat berita onlinenya mas, bisa juga lihat video streaming dari internet.
kalo ditonton bukan bikin sakit hati, malahan senyum miris saja kok
Saya setuju dengan Mas, karena sayapun merasakan hal yang sama, para pelakon demokrasi kita perlu selalu bertanya pada hati nurani masing-masing kalau memang masih punya. Salam kenal dan semoga semakin sukses.
p cabar om
salam hnagat dari blue
comandnya dah diwakilkan oleh kezedot
rakyat yang menilai
sementara KPK masih bekerja dalam kasus yang sama, mengapa musti ada pansus yang justru menambah beban biaya
rakyat hanya dipertontonkan sebuah drama dengan lakon tak jelas…
salam kreatif
terimaksih kunjungan diblog saya
Saya pusing kepala tiap menonton TV, jadi akhirnya TV dimatikan.
Saya sependapat dengan bahasan artikel Poltak H. di Koran Tempo tanggal 20 Januari 2010 dan Rhenal Khasali di Kompas tanggal 20 Januari 2010.
Lama-lama kita berantem melulu, dan pertanyaan yang memeriksa malah membingungkan….dan akibatnya negara kita tak kemana-mana. Yang dikawatirkan, jika akhirnya Pemimpin lebih memilih tidak memutus apa-apa karena aman, daripada berani membuat terobosan tapi disalahkan….
Jangan nangis terlalu banyak.
Kalau mau menghibur datan saja ke spanyol.
Tidak ada di dunia, negara yang lebih banyak korupsi dari pada sekarang di spanyol.
Salam kenal.