Posts Tagged ‘Manajemen Risiko’
Kenali Risiko, Lakukan Tindakan
Dalam suatu rapat pada sebuah perusahaan, Seorang Pemimpin Cabang perusahaan terlihat sedang marah-marah dengan salah seorang staffnya via telepon genggam. Sumber kemarahan adalah adanya laporan yang terungkap pada rapat yang menyatakan bahwa Cabang yang dipimpinnya memiliki tingkat kesalahan kerja yang tinggi. Karena merasa malu, maka dia ingin segera mengetahui siapa pegawainya yang telah mencoreng nama baik si pemimpin.
Sekian menit waktu berlalu untuk menginterogasi sang bawahan di Cabang, akhirnya didapatlah informasi yang memadai, bahwa kesalahan kerja yang terjadi bersumber dari seorang pegawai baru yang dinilainya tidak mumpuni. Dengan data ringkas yang dimiliki, sang pemimpin tampil dengan alibi.
ATM DiJebol Lagi……..
Dunia perbankan kembali diguncang dengan kejadian raibnya dana nasabah melalui pembobolan ATM yang disinyalir dilakukan oleh sindikat pembobol ATM yang terjadi dalam rentang waktu 16-19 Januari 2010 lalu. Menurut Bank Indonesia, sampai saat ini telah terjadi pembobolan rekening nasabah lewat ATM pada 6 bank, yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, Bank Permata, dan BII dengan lokasi kejadian di Bali dan Jakarta dengan potensi kerugian yang diperkirakan bisa mencapai angka Rp 4,1 M.
Hal ini merupakan suatu contoh kejadian risiko operasional yang disebabkan oleh kejahatan secara eksternal (Eksternal Fraud) yang jika tidak diantisipasi secara dini akan berdampak pada munculnya risiko lainnya, seperti risiko reputasi (pemberitaan negatif terkait operasional Bank) dan pada akhirnya berujung pada munculnya risiko likuiditas karena nasabah bank yang merasa dananya tidak aman lagi akan melakukan penarikan dana secara besar-besaran. Tentunya jika hal ini terjadi, tidak hanya akan mengganggu likuiditas bank itu sendiri tapi juga akan dapat membawa implikasi terhadap perekonomian secara menyeluruh atau berpotensi berdampak sistemik.
Waspadai Pemicu Internal fraud
Never think that still water doesn’t have crocodiles, never take for granted a peaceful outlook since danger may lurk beneath.
Didalam kaca mata risiko, pepatah diatas menggambarkan bahwa suatu aktivitas yang sangat kondusif, tenang dan tidak ada terlihat suatu gejolak atau permasalahan jangan dikira bahwa risiko atas aktivitas tersebut tidak ada, karena dalam setiap aktivitas, potensi risiko tetap ada dan sewaktu-waktu bisa meledak.
Contohnya adalah keruntuhan Daiwa Bank Cabang New York (November 1995) yang hanya disebabkan oleh salah seorang pejabatnya yang bernama Toshihide Iguchi. Toshihide Iguchi merupakan Penanggung Jawab Divisi Trading yang juga mengepalai bagian back office. Selama kurun waktu 11 tahun masa kepemimpinannya (1984-1995), Toshihide Iguchi melakukan 30.000 kali transaksi ilegal dengan total kerugian sekitar USD 1,1 M yang tercatat sebagai salah satu kerugian terbesar dalam sejarah keuangan dunia. Dan kecurangan (fraud) ini baru diketahui setelah Toshihide Iguchi mengakui perbuatannya sendiri pada tanggal 13 Juli 1995.
“Back to Basics”, Respon Terbaik Perbankan Terhadap Krisis
Didalam pidato tahunan perbankan Gubernur Bank Indonesia akhir Januari lalu, dimana bangsa-bangsa di Dunia tengah berhadapan langsung dengan krisis global keuangan yang hingga saat ini masih belum menampakkan tanda-tanda akan mereda, Gubernur BI menekankan pentingnya bagi perbankan nasional untuk kembali ke khittahnya, “back to basics” sebuah ajakan yang disampaikan kepada semua lembaga keuangan, terutama perbankan di Indonesia. Himbauan Gubernur BI tersebut dilandasi oleh kenyataan bahwa krisis yang tengah dihadapi sekarang ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari perkembangan sektor keuangan yang lepas dari akarnya, yaitu kegiatan ekonomi riil.
Statement Pemimpin, Suatu Mitigasi Risiko Reputasi
Pada saat reputasi perusahaan didera masalah, seorang pemimpin yang baik, memiliki kemampuan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. Tak terkecuali jika jalan yang ditempuh harus meminta maaf secara terbuka kepada publik atau pelanggan yang telanjur dirugikan. Dan seorang Charles Prince, Chief Executive Officer (CEO) Citigroup Inc. tergolong pemimpin yang memenuhi kriteria ini. Seorang pemimpin yang mampu melakukan mitigasi atas risiko reputasi yang tengah dihadapi perusahaannya dengan sangat baik.
September 2004, Citibank dipersalahkan oleh Otoritas Keuangan Jepang karena telah melakukan serangkaian pelanggaran keuangan, termasuk dugaan praktik pencucian uang. Pihak regulator keuangan memastikan bahwa perusahaan keuangan raksasa dari Amerika Serikat ini telah terlibat dalam sejumlah pelanggaran yang merugikan pemerintah dan menyesatkan masyarakat Jepang. Karena itu, Prince lalu diminta menutup unit trust banking-nya agar kepercayaan publik Jepang pulih.
Bersiap-Siap.. Badai Krisis Akan Datang (kembali)
Demi menstabilkan kondisi keuangannya, pemerintah Amerika Serikat melalui The Fed (BI – nya AS) harus menyuntikkan dana sebesar US$ 700 miliar atau sekitar Rp 6.450 triliun yang akan digunakan untuk pembelian aset-aset yang berhubungan dengan gadai rumah hunian dan komersial, termasuk surat berharga yang berbasis gadai dan keseluruhan utang sebagai imbas dari krisis perumahan (Residential Subpreme Mortgage) yang ternyata saat ini telah menjelma menjadi badai bagi perekonomian AS. Suatu pengorbanan yang fantastis agar peristiwa “great depression” tidak terulang kembali.
Efektifitas Penerapan Manajemen Risiko
Dalam konteks perbankan nasional, penerapan Manajemen risiko yang efektif mencakup pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, tersedianya kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit, kerangka proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko, kecukupan sistem informasi manajemen risiko serta sistem pengendalian intern yang menyeluruh yang harus disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan Bank.
Hal ini tentunya menyebabkan adanya perbedaan dan variasi antara satu Bank dengan Bank lainnya dalam penerapan manajemen risiko secara efektif dan tidak sedikit Bank yang masih meraba-raba dalam mencari bagaimana dan apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan. Sehingga dalam perjalanannya, ada sebahagian Bank yang menyusun sendiri pedoman manajemen risiko dan merakit sendiri sistem informasi manajemen risikonya dan sebahagian besar menggunakan jasa konsultan dalam pengembangan manajemen risikonya dengan harapan penerapan manajemen risiko secara efektif dan terintegrasi dapat tercapai.




![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)