by avartara
Sungguh suatu pukulan hebat bagi kemiskinan di negara kita, 21 orang meninggal sia-sia hanya demi uang sebesar 30 ribu rupiah. Tragedi yang begitu memilukan jiwa itu terjadi di Pasuruan, Jawa Timur, setelah seorang warga yang semula berniat berderma dengan pembagian zakat namun berbuah bencana.
Begitu parahkah kemiskinan pada bangsa ini? hingga demi 30 ribu rupiah, ada yang rela mengorbankan jiwa. Memang penyebab bencana itu adalah tidak terkoordinasinya acara pembagian zakat tersebut, namun pada hakikatnya adalah membludaknya peserta yang ingin mendapatkan jatah cuma-cuma. Banyaknya peserta menggambarkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita berjuang demi menyambung hidupnya, walau ajal menjadi tantangan.
Click to continue…
by avartara
Begitu besar dampak naiknya harga minyak dunia terhadap Perekonomian Indonesia. Sehingga APBN yang disusun Pemerintah direvisi dengan memotong pos-pos pengeluaran belanja Negara. Didalam tatanan perekonomian suatu Negara wajar halnya terjadi revisi atas APBN yang juga menyesuaikan dengan kondisi perekonomian internasional sebagai acuan penetapan asumsi-asumsi didalam penyusunannya.
Tapi hal yang begitu mengganjal di hati saya adalah pemotongan anggaran Pendidikan 10% atau sebesar Rp 4,918 T yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan. Hal ini pun disetujui oleh Komisi X DPR, wakil rakyat kita. Ditengah kemiskinan yang hampir mencapai 43% dari jumlah penduduk Indonesia, dengan jumlah pengangguran menurut Menakertrans yang diperkirakan akan terjadi penambahan pengangguran sebesar dua setengah juta orang tahun ini dan mutu Pendidikan di Indonesia yang tiap tahunnya tidak mengalami perkembangan yang berarti, pemangkasan anggaran pendidikan tersebut semakin meyakinkan saya bahwa Pemerintah tidak peduli dengan nasib Bangsa, bukankah kebodohan itu dekat dengan kemiskinan?
Namun Bambang Sudibyo “menenangkan” rakyat dengan berkilah bahwa pemotongan anggara itu bukan hal-hal yang menyentuh kebutuhan masayarakat seperti Dana BOS, gaji guru dan lainnya, tapi pos pendidikan yang dipotong adalah “Peningkatan Mutu Pendidikan”.
Apakah mutu pendidikan ga perlu diperhatikan? Apakah Pemerintah tidak tahu bahwa lebih dari 147 ribu anak-anak Indonesia terlantar dijalanan, dan 60 % nya sudah putus sekolah (data Departemen Sosial 2005) ? Apakah pemerintah tidak tahu bahwa kondisi itu akan menyebabkan kerusakan generasi penerus secara jangka panjang ?
Artikel terkait :
Pajak Kertas Pembodohan Bangsa
Anak-Anak dan Kemiskinan
Kelaparan dan Disfungsi Negara
Sikembar itu akhirnya tersenyum