13
Oct
14

Statement Pemimpin, Suatu Mitigasi Risiko Reputasi

Pada saat reputasi perusahaan didera masalah, seorang pemimpin yang baik, memiliki kemampuan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. Tak terkecuali jika jalan yang ditempuh harus meminta maaf secara terbuka kepada publik atau pelanggan yang telanjur dirugikan. Dan seorang Charles Prince, Chief Executive Officer (CEO) Citigroup Inc. tergolong pemimpin yang memenuhi kriteria ini. Seorang pemimpin yang mampu melakukan mitigasi atas risiko reputasi yang tengah dihadapi perusahaannya dengan sangat baik.

September 2004, Citibank dipersalahkan oleh Otoritas Keuangan Jepang karena telah melakukan serangkaian pelanggaran keuangan, termasuk dugaan praktik pencucian uang. Pihak regulator keuangan memastikan bahwa perusahaan keuangan raksasa dari Amerika Serikat ini telah terlibat dalam sejumlah pelanggaran yang merugikan pemerintah dan menyesatkan masyarakat Jepang. Karena itu, Prince lalu diminta menutup unit trust banking-nya agar kepercayaan publik Jepang pulih.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Prince menyempatkan diri terbang ke Tokyo dari New York, hanya untuk meminta maaf kepada publik Jepang atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Citibank Jepang. Dalam konferensi pers, Prince bahkan membungkukkan badan ala Jepang cukup lama sebagai tanda keseriusan permintaan maafnya. Prince juga mengambil keputusan menutup unit trust banking Citibank di Jepang selama setahun. Selain itu Prince juga memecat tiga eksekutif Citigroup yang dianggap bertanggung jawab terhadap semua kejadian ini, mereka adalah Deryck Maughan (Kepala Operasional Perbankan Internasional), Thomas Jones (Kepala Manajemen Aset Citigroup), serta Peter Scaturro (Kepala Bank Swasta Citigroup).

Sebuah keputusan yang pahit yang harus dilakukan Prince untuk menyelamatkan Citibank. Tanpa keputusan keras, mungkin saja citra Citibank akan melorot tajam di mata publik Jepang. Apalagi kasus pelanggaran keuangan itu menjadi berita di banyak media massa. Namun apa yang dilakukan Prince di Tokyo itu mendapat perhatian luas dari media massa Jepang dan Asia, dia dipuji sebagai sarjana hukum dan pengacara yang tak hanya tahu kiat bagaimana memikat publik di ruang sidang, tapi juga di ruang-ruang publik lainnya seperti media massa. Dan itu jelas menguntungkan bagi Citibank.

Kendati langkah-langkah pemulihan sudah dijalankan, namun citra perusahaan tak serta merta segera membaik. Kepercayaan publik terhadap sektor private banking Citibank menjadi melorot. Padahal, sektor ini menyumbang pendapatan cukup besar bagi Citibank. Dari laba bersih sampai triwulan ketiga tahun 2004 yang besarnya US$ 264 juta, dua per tiganya disumbang dari private banking.

Namun Jika Prince tidak mengambil semua keputusan penting tadi, bisa jadi nama baik Citibank akan semakin sulit diselamatkan. Bahkan hal itu akan menggiring Citibank ke situasi yang lebih buruk. Publik bukan saja akan beramai-ramai menarik uangnya (rush), tapi Citibank bahkan juga bisa menjadi bank yang sama sekali tak direkomendasikan untuk dipercaya. Jika itu terjadi, masa depan Citibank di Jepang jelas akan tinggal menjadi kenangan. Untunglah Citibank memiliki CEO yang tergolong bijaksana sekelas Prince. Ia sangat tahu kapan dan bagaimana harus mengambil keputusan di kala kritis dan bagaimana memitigasi risiko reputasi yang tengah membelut perusahaannya.

Enjoyed reading this post?
Subscribe to the RSS feed and have all new posts delivered straight to you.
14 Comments:
  1. abdullah khusairi 13 Oct, 2008

    memimpin adalah seni. sepanjang mampu memimpin diri sendiri, maka akan mampu memimpin orang lain. sementara, mulutmu harimau mu. tuntutan publik sangat besar, tak semata di mulut, tapi juga pada praktek. nah, pemimpin lekat dengan kekuasaan, cuma kekuasaan sering disalahgunakan….

  2. edratna 13 Oct, 2008

    Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya, sepahit apapun yang harus dilakukannya.

    Nama baik perusahaan sering dipersepsikan atas bagaimana para pemimpin perusahaan tsb berperilaku, dan ber komitmen.

  3. oktaveri 13 Oct, 2008

    Mantap-mantap artikelnya bos. Maaf numpang nimbrung nich.

  4. avartara 13 Oct, 2008

    @Abdullah Khusairi:
    Yups setuju Pak,… apalgi dalam suasana menjelang Pilkada ini ya,… semoga Padang dipimpin oleh pemimpin yg ga hanya bisa omong doank :) (nah lho ini kemana ini)

    @Edratna:
    Makasih Bu atas tambahannya

    @Oktaveri:
    Silahkan Pak,…. salam kenal, tetap semangat :)

  5. wewenk 13 Oct, 2008

    ribet juga yah jadi pemimpin…. saya mending jadi asisten pemimpin aja deh… hihihihi

  6. Deddy 15 Oct, 2008

    thanks lesson learn nya Da, saya ijin copas yo Da

  7. Deddy 15 Oct, 2008

    thanks lesson learn nya Da, saya ijin copy yo Da…

  8. avartara 15 Oct, 2008

    @Wewenk:
    Hehehehe,.. tapi jgn takut klu nanti jadi pemimpin,..bahkan sekarang pun kita telah menjadi pemimpin, pemimpin atas diri sendiri :)

    @Deddy:
    Sama2 Pak Boded,… silahkan Pak dengan senang hati :)

  9. Arif 16 Oct, 2008

    CEO sebuah perusahaan besar memang harus bijaksana …. kalau tidak APA KATA DUNIA ….?

    Bicara soal Citibank jadi teringat sekitar tahun 2003-2004 saat saya menggunakan produk kartu kreditnya … dari perhitungan bunga yang nggak masuk akal .., sampai saat proses penutupan kartu-pun harus menunggu 1 tahun, setelah 1 tahun malah ditagih iuran tahunan. Makanya saat saya ditawari kartu kredit Citibank dengan limit minimal 25jt saya tolah mentah-mentah … Sorry jadi curhat ….

    Bagaimana kabarnya Pak ….

  10. erander 17 Oct, 2008

    Meminta maaf dan memberi maaf, sepertinya mudah diucapkan tapi sulit diterapkan. Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel tentang memberi maaf. Mungkin akan membuat kita lebih mudah untuk memaafkan.

    Sebaliknya, meminta maaf juga merupakan upaya yang serius bukan hanya sekedar ‘lip service’ saja. Perlu kesungguhan .. saya jadi teringat dengan sebuah iklan rokok. Mudah minta maaf, mudah berbuat salah. Gitu deee :)

  11. avartara 17 Oct, 2008

    @ Arif:
    Alhamd baik2 aja Pak,… maksih telah menambahkan :)

    @ Erander:
    Maksih Pak,… tadi saya telah berkunjung ke sana,.. suatu hal yang sangat bermanfaat dari pembeljaran tentang maaf :)

  12. anton 19 Oct, 2008

    Jadi pempimpin dalam bidang apapun ternyata susah juga, entah itu pemimpin dalam arti negatif atau positif. Seperti yang pernah dialami temanku. Btw makasih sharenya, salam kenal dan sukses selalu.. :D

  13. muzz 25 Apr, 2009

    Risiko reputasi pada perbankan syariah apa ya da? trims.

    Risiko reputasi pada perbankan syariah sama halnya dengan perbankan koonvensional yaitu risiko yang antara lain disebabkan adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank,…. ga beda kok

  14. okinawa 4 Jul, 2009

    hebat fi, pas lagi search “mitigasi risiko” web ini berada di urut no.2 via google.co.id…artinya hitnya besar kan utk web km ;) hihi, mantap kata2nya….menggambarkan orgnya nih (applause)

    Ga juga Q,.. kebetulan sedikit yang nulis itu kali q,… hehehehe,.. BTW thx atas semangatnya

Post your comment
[+] kaskus emoticons nartzco