Si Bapak Dengan Saluang-nya Itu ..
Salah satu persamaan antara saya dan istri diantara puluhan perbedaan lainnya adalah memiliki hobi yang sama yaitu berwisata kuliner. Setelah hampir 3 minggu tidak berwisata kuliner yang tentunya disebabkan oleh kesibukan kami masing-masing, akhirnya tadi malam kami bersepakat untuk menjalani ritual ini. Diiringi hujan rintik, kami menetapkan tujuan ke suatu bofet yang menyediakan jenis makanan yang beragam, dengan cita rasa yang cukup lumayan dan harga yang relatif aman.
Sesampai ditempat tujuan, kami mengambil tempat duduk yang dekat dengan jalan, dengan harapan agar susana malam dapat ternikmati dengan hangatnya hidangan yang disajikan. Dengan sedikit kesabaran, akhirnya pesanan pun datang, tentunya segera disantap karena lapar yang sedari tadi menjangkiti badan.
Dengan begitu lahapnya kami menyantap makanan, dengan sesekali mengomentari rasa makanan masing-masing dan kadang bertukar makanan, namun seketika aktivitas itu kami hentikan, disaat bunyi “saluang (alat musik sejenis seruling khas sumatera barat)” sayup terdengar diantara rintik hujan. Begitu syahdu dan hangat, mengalahkan dinginnya malam. Spontan mata ini mencari sumber bunyi itu, ternyata berasal dari seorang lelaki buta paruh baya yang berdiri dengan payungnya ditrotoar jalan.
Memang trotoar itu diisi oleh beberapa pengemis yang mencoba mencari kehidupan dari receh yang berhasil dikumpulkan, namun dari beberapa pengemis yang hadir saat itu, si bapak dengan saluang itu yang menjadi pusat perhatian, tidak hanya kami namun beberapa pengunjung lainnya. Selain alunan musik yang dimainkan begitu syahdu dan mendayu-dayu, namun semangat dan harga diri yang begitu besar yang patut mendapat perhatian dan pujian.
Kekurangan fisik yang diderita bukan alasan untuk si bapak untuk meminta-minta, dengan keahlian dan kesabaran dia mencoba untuk memberikan hiburan cuma-cuma. Mungkin bagi dia ini lebih layak dari pada hanya sekedar meminta-minta dan memelas meratapi nasib belaka. Cukup lama saya memperhatikan si bapak dan orang-orang yang bersimpati yang tidak hanya memberikan receh, dan bahkan ada yang memberi lembaran lima puluh ribuan, berbeda halnya dengan pengemis lainnya, yang bahkan secara fisik mereka lebih lengkap dan sehat jika dibandingkan dengan si bapak, namun mereka tetap saja mengklaim diri tidak bisa apa-apa dan pasrah dengan menggadaikan harga diri agar dikasihani.
Suatu pelajaran yang sangat berharga malam ini dari seorang bapak yang terbatas fisiknya, namun begitu semangat memperjuangkan hidupnya dengan tetap menjaga harga dirinya. Kadang tanpa disadari kita yang begitu lengkap ini begitu seringnya mengeluh dan kadang tanpa disadari meratapi hidup, mengalah dengan keadaan yang kadang itu menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan mengharap untuk mendapatkan bantuan.
Subscribe to the RSS feed and have all new posts delivered straight to you.




![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)
dimana itu bang?
kita harus lebih mensyukuri apa yang kita dapatkan
@Takochan:
Sebenarnya itu rahasia, tapi ga papa deh dari pada penasaran ya ga? itu di kubanng des….
@ai:
Eh ai apa kabarnya neh
perbedaan rejeki itulah yang bakal di kurangi jika zakat benar benar terlaksana…
hemmm…pelajaran berharga buat kita yg diberikan kelebihan oleh-Nya.
tetap semangat!
membaca kalimat pertama, ada kata saya dan istri
*patah hati*
dan satu pelajaran telah aku dapati dari tulisan abang ini.
abang selalu memberi ide ide yang terbaik untuk bunga pengetahuanku
salam hangat selalu untuk abang dan seluruh jiwa keluarga abang
@ Hendri:
Yups dengan zakat besar harapan agar disparitas yg terjadi tidak terlalu besar
@ Rindu:
(gubbrrraakkk) ,.. diriku telah memliliki seorang istri
Hahahaha,… maafkan diriku yang telah mengecewakan hatimu
@ Dobleh:
Maksih atas semangat yg terus diberikan bleh
Bagaimana dengan orang² yang memiliki phisik lengkap dan ngamen dengan menggunakan gitar pak?
@ Pak erander:
Ya ga masalah Pak,… menurut saya usaha mereka juga patut untuk dihargai Pak, bagi yang bersungguh-sungguh dalam berusaha …
saya pernah makan di warung yang agak gede.di pojok warung itu ada baoak yang sedang mengalunkan sintren *maaf saya lupa namanya*. terdengar sangat menentramkan…
thanks da, sangat inspiratif, membuat semangat saya berkobar lg (tadinya mulai melemah akibat jenuh jauh dr kampuang hehehe)..
iya ya..tuhan menciptakan manusi dengan sebaik-baiknya. Setiap manusia itu adalah mutiara, sekarang tergantung mau disah jadi apa…si Bapak membuktikan bahwa dia mampu…
Bapak tua tadi punya harga diri, dia menunjukkan keahliannya….bukan meminta-minta…hal yang patut membuat kita menghargainya….
Sayapun merasa beruntung walaupun wajah jelek tapi anggota tubuh masih lengkap. Alhamdullillah
sungguh ironi tikus kelaparan di lumbung padi. banyaknya pengemis di negeri yang katnya subur ini
Fisik tidak harus membatasi kita untuk berkarya. Banyak orang buta bisa membaca…
@ Tukang obat bersahaja:
Kapan2 ajak saya ya
@ Pak Boded:
Hehehe,.. kadang jauh dari kampung memang sering mengganggu angan pak, trus kapan pulang neh pak
@ Imoe:
Yups,.. sebuah vas bunga cantik berasal dari tanah yang jelek,.. namun berkat tangan terampil situkang keramik,.. bisa diubah menjadi vas yg cantik
@ Edratna:
Yups setuju bu,… patut dihargai
@ Sandi:
Kita harus mensyukuri segala apa yg telah direncanakan-Nya buat kita,.. salam kenal bro
@ Catra:
Aneh memang jika dicermati,… namun itulah kondisinya saat ini
@ Eko Madjid:
Yups bener pak,… dimana ada keinginan disitu ada jalan,.. salam kenal
uni juga lebih menghargai mereka yg ngamen apalagi mmg sungguh2 nyanyi bukan asal genjreng2 :d
avar saluang gak sama dg seruling loh hehhe protes soale ortu uni itu seniman kampuang yg hobi bgt main saluang (papa)dan badendang minang (Ibuk).seruling = suliang.
sejak minggu lalu mencoba buka blog ini baru berhasil hari ini, kenapa ya avar? inipun lamooooo bana.
walaupun telat, tetep maaf lahir bathin yo
Makasih uni atas masukannya, memang ada kesalahan pemaknaan kata,. tapi udah diperbaiki uni,… maafkan atas kekeliruan ini,…. susah dibuka? tapi disi ga uni… akan segera diselidiki
Avar, salam kenal
Setelah jalan-jalan kesana-sini akhirnya sampai juga di blog ini. Saya belum sempat baca banyak postingannya, jadi belum bisa kasih testimoni. Tapi tukang saluang itu telah mengajarkan banyak…
Btw, di kubang nan dima?
Kalo ngeliat yg kayak gitu, rasanya aku bersyukur amat sangat banget…
Aku juga pernah terenyuh seperti abang ini. Waktu itu aku naik taxi, dan ternyata… kedua tangan supirnya buntung sampai batas di bawah siku dikit…
@Alris:
Salam kenal Pak Alris,… semoga betah,… kubang yang di M.Yamin pak,….
@Silent Reverie:
Wah kenapa ga di posting aja ceritanya,.. pasti akan menarik dan menambah rasa syukur kepada-Nya
alunan saluang, malan malam ditemani istri tersayang..lengkaplah…bersyukur itu yang utama, masih banyak yang tak seberuntung kita. Betul kan ?
wah, saya suka gak tahan kalau menyaksikan orang-orang yang lemah (dalam aspek apa saja–fisik, metal, ekonomi) tak kenal menyerah dalam berjuang.
seperti da helfi dan mungkin banyak orang lainnya, kegigihan mereka justru lebih menarik simpati daripada orang yang selalu menadahkan tangan minta dikasihani.
mudah-mudahan cerita ini memberi pelajaran bagi semua orang. mokasih, da helfi.
@ Unai:
Seppp,… stuju unai,.. setuju
@ Marshmallow:
Samo2 bu,… ini juga suatu pelajaran bagi saya sendiri,.. merefleksikan apa yang telah saya lakukan hingga kini
Dah lama ga mampir, pernah error tiap ke sini,alhamdulillah sekarang Da Avar bukain pintu hehehe…Jadi ingat, saya ampe punya ringtone bernadakan suaro saluang…wuih, mengiris hati! takana kampung…Kalo makan di situ baliak Da, titip salam jo ‘angpau’ dari ambo….Seriussss…
Saluang, Rabab, Talempong …!!! dah ngak banyak lagi yang memberi perhatian terhadap musik trandisional kita nie.