Berdasarkan riset Infobank pada bulan Desember 2006 kegiatan usaha Bank Pembangunan Daerah (BPD) selama Agustus 2005 – Agustus 2006 tumbuh signifikan, dengan pembiayaan Kredit BPD tumbuh 23,08% dari Rp43,56 triliun menjadi Rp53,62 triliun sementara Kredit perbankan nasional hanya tumbuh sebesar 14,6%. Namun dalam penyaluran kredit, BPD menuai banyak kritik. BPD dianggap tidak becus mengucurkan kredit. Anggapan tersebut bisa jadi benar bila melihat posisi loan to deposit ratio (LDR) BPD yang hanya 42,74% per Agustus 2006 atau menurun jika dibandingkan dengan Agustus tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 48,53%. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diraih BPD mencapai Rp125,45 triliun, tapi yang disalurkan dalam bentuk kredit hanya Rp53,62 triliun. Meskipun kreditnya meningkat, masih kalah jauh dibandingkan dengan peningkatan DPK, sehingga LDR BPD menjadi tergerus.
Kondisi diatas menimbulkan kritik negatif terhadap BPD sehingga menjadi polemik dan penuh pro kontra bahkan dituding bahwa DPK BPD banyak disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan jumlah yang selalu meningkat. Hal ini memunculkan anggapan bahwa BPD enggan menyalurkan kredit yang seharusnya disalurkan kemasyarakat (sektor riil) agar perekonomian daerah terus bergerak tapi meningkatnya porsi DPK dalam SBI dinilai semakin memberatkan beban moneter BI.
Penempatan dana dalam bentuk SBI yang telah menjadi perdebatan publik dan elit negara secara nasional serta mengarah pada tudingan atas Pemerintah Daerah melalui BPD-BPD-nya ikut berperan dalam terganggunya proses pembangunan ekonomi, perlu dijelaskan secara objektif apakah kesalahan tersebut merupakan the play game dari BPD atau Pemerintah untuk mencari keuntungan semata?
Perlu ditegaskan bahwa kondisi ini merupakan konsekuensi bisnis perbankan yang bersumber dari belum optimalnya penyaluran dana Pemerintah Daerah dalam pembangunan ekonomi masing-masing daerah yang berakibat munculnya ekses likuiditas sehingga BPD harus mengoptimalkan kelebihan likuiditas tersebut pada Sertifikat Bank Indonesia.
Selain itu, kondisi ini juga disebabkan oleh terjadinya Financial Market Failure yang terlihat dari angka undistribution loan sebesar 162 triliun (30%) yang belum ditarik sebagai dampak dari belum kondusifnya sektor investasi dimana investor masih menginginkan berbagai hal, mulai dari perbaikan dan ketersediaan infrastruktur, kepastian hukum, revisi UU Ketenagakerjaan, reformasi Birokrasi, kebijakan fiskal, kepabeanan dan seterusnya.
Saat ini Perbankan masih melihat risiko-risiko sektor riil yang cukup besar seperti risiko legal serta kemampuan ataupun pemasaran, sementara pelaku usaha masih ragu mengambil kredit dan masih melihat kondisi pasar apakah menjanjikan atau belum.
Penyelesaian permasalahan tersebut bukanlah hal yang rumit untuk dilakukan, ada yang berpendapat bahwa solusi untuk deadlock sektor perbankan berupa market failure ini diantaranya adalah :
1.Penurunan BI-Rate sampai batas terendah yang dapat ditoleransi
2.Upaya optimal Pemerintah mendorong proyek-proyek infrastruktur
3.Komitmen bank-bank besar terutama Bank BUMN dalam aktifitas lending di sektor riil





![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)

Pertamax dulu deh, abiz krn asyik mbaca, suka keduluan orang hehe…
Walaupun sepanjang hidup : gajian lewat bank, transfer sana-sini, nabung, setelah itu bolakbalik atm buat narik duit tapiii…..
Taw gak mas, selesai mbaca malah bingung maw ngomen yang mana, maklum agak telmi dibidang ini hehe…
Tapi gapp, kan bisa blajar disini yan gak maS?
sebenarnya bpd jg tdk salah apabila ada dana idle ditempatkan di SBI, daripada nggangur gak dpt apa2 lebih baik yg menghasilkan, kan bisa menutupi by operasional (termasuk biaya untuk DPK), selain itu dari pemegang saham yg notabennya pemprov/pemkot/pemda menginginkan sumbangsih yg lebih besar atas laba operasional bank yg ujung2nya untuk pembangunan daerah … nah sambil menunggu momen yg tepat dalam hal menyalurkan dana khususnya dibidang kredit, jadi menurut gw sah-sah aja kalau dana tsb ditempatkan di SBI selain AMAN juga MENGUNTUNGKAN! bagaimana setuju? yaaaaaa harus setuju heheheheh … thx mampir ke blog gw, salam SUKSES & TERUS SEMANGAT!
BPD sumbar bank Nagari kan?
saya suka sama bank yang satu ini, hehehe mau ngasih sponsor gede buat UKM-ITB, makasih bank nagari
aku BCA aja ah yang ATM nya banyak….
hehehe…
Jadi ingat tentang sebuah komitmen! Lembaga dibuat untuk apa dan untuk siapa? Selagi uang ditumpukkan tak bekerja produktif dalam artian produksi barang dan jasa, selagi disimpan dalam bentuk SBI lebih menguntungkan, maka negeri ini takkan loncatan dahsyat dalam perekonomian kita. Dorongan untuk produktif kepada masyarakat dan berani berutang ke bank masih lemah, takutnya bank terhadap resiko, akan selalu membuat stagnasi ekonomi negeri ini terus membatu. Ini soal komitmen! Salah satu bank nasional milik pemerintah saya pernah temukan, tapi bisa saya beritakan karena tak lengkap menjadi berita, pimpinan cabangnya dengan serta merta, untuk memperbaiki kinerja di atas kertas, memindahkan dana ke rekening rentenir dalam jangka waktu empat atau lima hari kerja atau satu minggu saja. Ini artinya adalah, komitmen dari pemimpin bank untuk berani menyalurkan dana demi rakyat, bukan menyelamatkan jabatan dengan bersandar pada angka-angka tipis penyelamatan. Ah, saya benar-benar bodoh dalam bidang keuangan. Tapi saya mengerti tentang hakikat-hakikat, sebab di atas kertas semuanya terlihat ideal tapi realitasnya tak pernah ada…. terima kasih…..
Bro, daripada ak komen sok tau, mending daku jujur aja ngomong klo ak gak ngerti mau komen apa, tapi paling gak ak dapat ilmunya laah!
Happy wiken!
aku taunya tarik dan transfer aja, mo kursus perbankkan ah ma bang avartara.
Serasa lagi kuliah baca tulisan ini … kemarin dosen saya juga membahas ini
*garuk-garuk* ra dong blas
eniwei, jadi dapet ilmu baru….
mengenai aktivitas kredit mikro, sepertinya sudah banyak yg mulai ikutan berebut kue. kemaren aja kalok nggak salah ratusan bankir Danamon “dibajak” oleh berbagai bank,salah satunya yg banyak disebut adl BTPN, yg ingin memanfaatkan keahliyan mereka, tentu dengan iming2 gaji lebih besar. secara Danamon adalah salah satu bank yg cukub berhasil di pasar kredit mikro, tentu bank2 pembajak tsb ingin mengikuti sukses Danamon di sektor kredit mikro, dengan cara membajak bankir2nya yg prestasi, jadi mangkin banyak nih saingan BPD di kredit mikro
tapi dgn kenaikan BI Rate 25 poin blm lama kemaren, tentu bakal menambah challenge bagi kalangan perbankan dlm memasarkan kreditnya. kalok nggak tercapai target penyaluran kreditnya, ya gimana lagi… di SBI kan aja, mudah & jelas menguntungkan plus anti macet
hiks… telmi dikit kalo ngomongin finansial
Jadi pengen nanyak nih..: napa ya BPD sulit banget nguncurin dana buat modal usaha? khususnya rakyat kecil.
*garuk-garuk kepala*
topik postingan kali ini agak spesifik ya..
dan saya tengsin kelihatan oon (pdhal emang, hehe..) jd saya gak komen dulu deh…
yg jelas sy nambah ilmu lewat topik ini
ai ama hendri mana link nya bang…
aduh kalo masalah beginian uni tulalit bana ko hah, alah baco ndak mangarati hehe
jadi inget dulu pas masih pengangguran pernah bareng temen dapet proyek dr BI, survey ttg peran kredit perbankan dlm menunjang UKM.
dan hasilnya ternyata… masih bwanyak temen2 di UKM yg belum merasakan mangpaat kredit perbankan, yg disebabkan dari mulai ribetnya prosedur, kesulitan agunan, sampek kegagalan pd saat pengajuwan.
jadi masih ada gap antara kebutuhan bank utk menyalurkan dananya dlm bentuk loan ke duniya usaha serta kebutuhan duniya usaha (utamanya UKM) utk mendapatkan dana loan dr bank secara lebih mudah.
seharusnya di sumbar yg notabene masarakatnya berjiwa enterpreneur tinggi ini, kebutuhan akan dana pinjaman utk modal usaha tinggi jg…
heheheh ntu apaan ya…
kalo gitu saya beli dech , gimana uda ??? setujuuu ??( tapi duitnya dari mana yachhh )
bank nagari udah bisa terima paypal blom………!
Jadi pengen nanyak nih..: napa ya BPD sulit banget nguncurin dana buat modal usaha? khususnya rakyat kecil.
Jawabnya, karena direksi – direksi BPD sebagian besar tidak sekompeten bank umum dan bank devisa laiinnya. Amannya uang disimpan di SBI atau di pakai untuk operasional internal BPD.
Misalnya, BPD di jawa timur, direksi HRD setiap hari agenda golf di lapangan golf mahal di Surabaya, Jakarta, bali atau Luar negeri.
Mobil operasional direksi dipakai mobil Alphard atau Camry, tunjangan besar dan entertaint tidak untuk pembangunan.
Apakah sanggup direksi kami di BPD dimana internal carut marut, karyawan kompetensi parah.
Apakah BPD lain begitu kondisi?
Wassalam,wr,wb.
binun ach….
atu tan balu bica aca ama aen komputel
hi…hi…hi
iya betul banget. BPD di tempat saya juga nyaris tdk pernah menyetuh sektor2 usaha. Kalau pun ada, kebanyakan kredit yg disalurkan bersifat konsumtif (kredit2 pegawai) bekerja sama dgn pemerintah daerah.