Bantuan Langsung Tunai Plus (BLT-Plus), itulah “permen” yang dijanjikan Pemerintah untuk meredakan tangis rakyat karena BBM akan dinaikkan sebesar 30% yang rencananya paling lambat awal Juni ini. Dengan asumsi setiap rumah tangga miskin mendapatkan bantuan sebesar Rp 100 ribu/bulan selama 1 tahun, pemerintah yakin dapat menekan angka kemiskinan akibat meningkatnya inflasi karena kebijakan kenaikan harga BBM tersebut.
Sungguh suatu pemikiran sederhana dari kumpulan orang-orang pintar pilihan negeri ini. Berdalih demi menyelamatkan APBN 2008 dari melonjaknya harga minyak dunia dengan menaikkan harga BBM menjadi satu-satunya pilihan, Pemerintah memilih “rakyat kecil” untuk dikorbankan. Apakah efek berantai dari kenaikan BBM ini telah dikaji sedemikian matangnya oleh “orang-orang pintar Negri ini”? Toh efek dari kenaikan BBM ditahun 2005 lampau belum sepenuhnya pulih dirasakan.Memang tidak seluruh rakyat Indonesia yang merasakan, bagi mereka yang berpendapatan tinggi kenaikan harga-harga khususnya Sembako bukan suatu masalah yang signifikan, tapi bagi saudara kita yang berada dibawah garis kemiskinan yang jumlahnya cukup signifikan (41% dari penduduk Indonesia), kenaikan harga BBM akan membuat mereka semakin yakin bahwa pemerintah tidak ada untuk mereka. Wajar jika muncul gejolak, wajar rakyat berteriak dan wajar jika kita kecewa, karena untuk memenuhi kebutuhan pokok saja begitu sulitnya, apakah ini pernah dirasakan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu kita terhormat di Pemerintahan?
BLT-Plus yang diyakini sebagai obat pelipur lara, tidak lain adalah perusak moral bangsa. BLT-plus akan semakin memicu tumbuh suburnya jiwa “pengemis” dan “pemalas” pada bangsa kita. Beramai-ramai rakyat mendaftar dan meyakini diri bahwa mereka adalah benar-benar miskin, tak peduli harga diri, dan malangnya yang benar-benar miskin malah tersingkirkan. Apakah fenomena ini luput dari kaca mata Pemerintah kita? Alangkah lebih baiknya memberikan “kail” dari pada memberikan “ikan” yang toh habis hanya sekali makan?





![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)

ASS.
merk baru ya da ??? udah ada dipasaran nggak ???
hehehe……..
berarti nambah lagi dong orang miskin…kalo semuanya pada ngaku miskin agar dapet permen..
wah, makin lengkap pembodohan ini…
berikan kami kekuatan melawan kebodohan pemerintah kami ya Allah..
bangkit negeriku, harapan itu masih ada!!
yap..saya percaya kok mas, kalau itu dibiarkan akan semakin berbahaya bagi gen. penerus. Mengingat mental demikian akan membawa pada kekalahan dalam persaingan hingga kepunahan suatu ras
permen..sekaligus anestesi
membius sementara sehingga orang gak menyadari bhw persoalan sebenarnya gak pernah terselesaikan..
bener2 sesuai dgn tema nasionalisme kebangkitan nasional, hehe..
Keep Positive Thingking, “Permen itu bernama subsidi”
udahlah, wakil rakyat sedang sibuk jalan-jalan, eh studi banding tuh ke luar negeri
makanya jadi wakil rakyat…jangan jadi rakyat hiks..hiks..