• RSS
  • Facebook
  • Twitter
23
December
Comments

Sudah sangat lama rasanya tidak menuangkan isi hati dirumah ini, bahkan untuk merangkai kata-kata yang berserakan diberanda depan untuk dijadikan hiasan-pun begitu sulit rasanya. Bisa karena biasa, tepat benar menggambarkan kondisi diri saat ini. Terbiasa untuk tidak menulisi diri, membuat otak dan hati berjalan sendiri sendiri, tidak mampu bersinergi lagi. Apakah ini mati suri? Semoga hanya sebuah degradasi !! Ahhh, lupakan saja degradasi, bahkan Tim hebat sekelas Juventus pernah merasakan degradasi namun kembali bangkit menguasai liga itali.

Bukan degradasi ini yang mau ditulisi, namun sebuah pesan dari kata “mewarnai” yang telah mengusik diri dari keterdegrasian ini.

Hal ini berawal pada saat saya dengan setengah terpaksa mengikuti ajakan istri untuk menghadiri sebuah acara ulang tahun pada salah satu rumah sakit swasta di Padang baru-baru ini. Acara yang cukup meriah tentunya, dengan beragam kegiatan yang disesuaikan dengan usia. Walaupun jalan santai dan bazar masih tetap menjadi primadona, namun ada satu kegiatan lain yang tak kalah banyak pesertanya yaitu lomba mewarnai, banyak karena setiap peserta didampingi para supporternya yang setia, yaitu orang tua.

Sesuai dengan judul perlombaannya, tentunya si peserta dibatasi usia, hanya balita saja yang boleh mengikuti, orang tua hanya mendampingi. Mewarnai bagi peserta ini bukanlah hal yang sepele, dibutuhkan konsentrasi tinggi untuk memadukan antara hati, pikiran bahkan angan-angan. Hal ini tergambar dari pancaran mata setiap peserta saat memilih warna apa yang akan digoreskan pada buku yang telah bergambar sama.

Jika warna yang akan dituangkan itu didasarkan pada hati, pikiran dan angan-angan, tentunya akan menghasilkan perpaduan warna yang berbeda, unik dan beragam. Disalah satu sudut, seorang anak lelaki 5 tahunan sibuk mewarnai baju dokter hitam putihnya, lengkap dengan kaca mata dokter yang telah diwarnainya kuning muda. Begitu sibuknya dia mewarnai, bahkan untuk mendengarkan ocehan orang tuanya yang sedari tadi mengomentari warna-warna yang tidak pada “jalurnya” itupun dia tidak sempat. Sesekali dia melirik teman disebelahnya, seorang anak perempuan yang sebaya dengannya, yang juga tekun mewarnai langit merah mudanya.

Begitu beragam dan sangat berwarna, dan tentunya setiap warna yang mereka tuangkan merupakan hasil perpaduan jiwa lengkap dengan imajinasi yang bahkan diluar logika kita sebagai orang dewasa. Diantara peserta tidak ada yang saling menyalahkan, tidak ada yang saling mengejek dan berlagak sok pintar dengan menggurui peserta lainnya. Hanya orang tua yang sedari tadi sibuk menyalahkan warna langit yang tidak lagi biru atau baju dokter tidak lagi berwarna putih. Mereka tetap dijalurnya masing-masing dan sangat bertoleransi dengan perbedaan-perbedaan, karena mereka lebih dahulu memahami bahwa perbedaan itu bukan untuk dipermasalahkan.

:nerd

5 Responses so far.

  1. ady avartara says:

    ingin kembali rasanya menjadi seorang anak kecil yg belum terkontaminasi segala adab dan peraturan…berjalan apa adanya dengan warna nya sendiri2…tq atas kisahnya….

  2. edratna says:

    Dulu, saya begitu terpesona melihat gambar anak bungsu saya, yang bagi saya terlalu berani. Dia begitu kuat menggoreskan warna-warna meriah……dan ternyata dalam kehidupan selanjutnya dia memang berani mengejar mimpi-mimpinya.

    Di satu sisi, ada anak yang sejak awal tenang, lebih suka gambar yang kalm….dan akhirnya dia menjadi seorang dokter. Entah apakah perbedaan ini bisa terlihat sejak awal…?

    Hmmmmm,… menarik juga contoh yang ibu berikan, tapi anak-anak saat itu sangat polosnya, keluarga dan lingkungan yang mewarnai. kadang saya pernah juga jumpai hal yang berbeda saat dia kecil dan saat sekarang saat dewasa. Makasih bu atas tambahannya

    edratna´s last [type] ..Kegiatan akhir tahun:Jalan-jalan bersama anak, menantu, cucu

  3. avartara says:

    Ady avartara:….. Hidup bagai sebuah perjalanan satu arah bro,… apa yang telah dilalui akan tertinggal dibelakang, kita hanya bisa memandangnya sebagai teman atau musuh dalam menempuh sisa perjalanan, bisa baik dan buruk

  4. warnai kehidupan sebaik mungkin, warnanya boleh warna-warni,terserah,yg penting kita bangga menjalaninya. hehe.

    Yups,.. bangga dan siap mempertanggungjawabkan apa yang telah kita pilih sebagai warna..

    hanif mahaldi´s last [type] ..Suksesnya KaosKampus[dot]com

  5. crazyhusband says:

    hehehe karena imajinasi anak-anak itu tinggi, belum bisa untuk memikirkan sesuatu berdasarkan realita walaupun pasti semuanya akan indah jika berada pada tempatnya..
    kalau saya nanti mendidik anak, akan saya biarkan anak berimajinasi dan bereksplorasi kalau itu memang dalam jalurnya.. sebagai orang tua saya akan memotivasi dan mengarahkan saja supaya anak tidak keluar batas ^^
    salam mas.. sibuk ya jarang posting ternyata hehehe
    crazyhusband´s last [type] ..Jika Istriku Wanita Karir

Leave a Reply


CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

Komunitas Jiwa

  • Komunitas Blogger Sumbar
  • .
  • .
  • .