Sebahagian besar perusahaan di Indonesia apa sajalah jenis dan ukurannya takut dengan kegagalan, bahkan ada perusahaan yang menganggap kegagalan adalah sesuatu yang “tabu” untuk diperbincangkan. Mudah saja membuktikannya, dari puluhan jenis laporan perusahaan yang dipublikasikan ke masyarakat, hampir tidak ada laporan yang berisikan kegagalan. Apakah dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan tersebut tidak pernah mengalami kegagalan? Kegagalan dalam berinvestasi mungkin?!! Atau kegagalan dalam mengelola suatu proyek? Atau kegagalan dalam pengelolaan sumber daya manusianya? Tentunya ada dan pernah terjadi, tapi tidak dilaporkan atau lebih parahnya sengaja disembunyikan.
Tentunya manajemen perusahaan tidak mau para stakeholdernya tahu bahwa mereka mengalami kegagalan, karena ada sebuah reputasi yang harus dipertaruhkan demi kelangsungan perusahaan yang dikelola, itu merupakan salah satu alasan pasti. Karena bagi sebagian besar stakeholder (termasuk kita, masyarakat), kegagalan adalah suatu prestasi buruk, dosa besar yang hukumannya hanya hujatan atau bahkan cibiran tanda ketidak becusan pengelolaan, tanpa mau melihat proses bagaimana rangkaian kejadian itu bermuara pada kegagalan.
Lalu bagaimana dengan kegagalan, yang hidup didua sisi yang saling melukai, melukai manajemen sebagai pengelola dan melukai stakeholder sebagai yang berkepentingan?!! Entahlah, kegagalan akan tinggal dalam kesendirian, tidak ada yang mau mengambil pelajaran darinya, untuk melakukan evaluasi atas kegagalan yang telah terjadi. Sebagian besar perusahaan berusaha untuk menjadi pembelajar terus-menerus, mereka berusaha keras untuk sama-sama menghindari kegagalan dan jarang mengakui ketika itu terjadi.
Tentunya itu sebuah peradigma yang salah yang hanya menitikberatkan penilaian dari hasil, bukan dari suatu proses. Keberhasilan bisa dihasilkan dari suatu proses yang salah, itu lebih buruk lagi. Misalnya ada sebuah Bank yang untuk mencapai target kreditnya, rela mengabaikan prinsip-prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit, sehingga pada akhirnya akan mengalami kegagalan yang lebih parah, berupa meningkatnya kredit macet. Jika dari awal mau berterusterang akan suatu kegagalan, mungkin tidak akan terjadi suatu kegagalan yang lebih parah lagi.
Laporan kegagalan yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan laporan kegagalan yang tiba-tiba muncul tanpa ada suatu proses yang jelas. Laporan kegagalan tentunya akan berisikan kesalahan yang telah dilakukan dalam suatu proses bisnis, dampak yang terjadi atas kesalahan tersebut, pelajaran yang dipelajari dan apa yang akan dilakukan pada waktu berikutnya (corrective action). Bagi manajemen, jenis laporan ini akan mempercepat evaluasi atas langkah yang telah salah dilakukan, sehingga kerugian (dampak) yang lebih besar bisa dihindari dan berkomitmen agar kejadian serupa tidak terulang lagi dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi stakeholder laporan kegagalan ini merupakan barometer penilaian kemajuan perusahaan, seberapa tangguhnya manajemen perusahaan mengatasi permasalahannya dan seberapa jauh perusahaan telah berjalan.
Tentunya tidak mudah mempertemukan 2 kepentingan ini, kepentingan perusahaan dan kepentingan stakeholder. Namun perlu disadari bahwa ketika kita dapat melihat laporan kegagalan sebagai alat pembelajaran bagi pertumbuhan dan untuk mencegah mengulangi kesalahan yang sama, maka akan lebih mudah untuk memulai suatu langkah yang baru, karena belajar untuk sukses adalah dengan belajar menyikapi sebuah kegagalan.
![]()






![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)

kalau tanda-tanda perusahaan itu gagal apa aja sih mas? apakah hanya dari sisi finansial ketika pendapatan tidak balance dengan pengeluaran? ataukah ada hal-hal lain yang sifatnya bukan materi tapi dari sisi manajemen perusahaan yang jelek atau yang lainnya?
salam kenal mas..
crazyhusband´s last [type] ..Cara Menghadapi Istri Yang Ngidam
Mas Crazyhusband : Kegagalan yang dialami suatu perusahaan tidak hanya dari sisi financial, biasanya kegagalan financial disebabkan oleh kegagalan lainnya (non-finansial),… misalnya kegagalan dalam pengembangan Sumber daya Manusia, ini bisa berdampak terhadap lambatnya pengembangan perusahaan, krena kelemahan SDM, tingkat kesalahan kerja meningkat, atau banyak posisi strategis diisi oleh SDM yang tidak kompeten. Bisa juga kegagalan dari eksekusi sebuah strategi, yang berdampak terhadap tidak tercapainya strategi yang menyebabkan perusahaan itu merugi. Lain halnya dengan kegagalan dalam melakukan investasi, yang juga berdampak berdmpak terhadap kerugian finansial.
jadi intinya adalah bukan pada jenis kegagalannya, tapi proses dibalik suatu kegagalan yang terjadi, sehingga manajemen dan stakeholder mampu melakukan evaluasi segera terhadap proses yang telah mengalami kegagalan.
Terimkasih atas kunjungannya mas….. salam kenal
o ya bener banget mas..sebenernya kegagalan finansial hanyalah sebagai efek akhir dari semua kegagalan dalam hal-hal lain yang memang keberadaanya bagaikan satu mata rantai yang saling terkait ya..
saya selalu mengamati hal ini karena ada banyak konflik yang tak tersolusikan di tempat saya kerja, bukan hanya dari segi finansial tapi kebanyakan dari kurangnya manajemen SDM yang tak terkondisikan sehingga yang terjadi adalah sebuah lingkungan kerja yang tidak kondusif yang berpengaruh terhadap kinerja dan mungkin saja efek akhirnya akan berujung pada kegagalan finansial yang merupakan sebuah aspek penting yang harus ada dalam perusahaan..
blog yang menarik mas..saya izin melinkkan blog ini dengan blog saya semoga bisa saling berbagi hehe
ian abu tamam
crazyhusband´s last [type] ..Cara Menghadapi Istri Yang Ngidam
baca postingan ini jadi mengingatkanku akan perusahaan tempatku bekerja sebelumnya. Sistem manajemen yang sangat kacau. Keuangan selalu defisit. Selalu kalah tender. Menyedihkan.
Ichaawe´s last [type] ..Curhat mencegah Jerawat.
stakeholder di indonesia… papa memang ciri khasnya spt itu masbro? jadi gak bisa dikasih laporan yang apa adanya… model2 ‘the ugly truth’ begitu
apa belum ada kedewasaan guna menarima proses yang terus berjalan dan bukan hasil aja ya… *thinking*
Red´s last [type] ..Info: Seminar Revolusi Belajar Al-Quran
Untuk perusahaan yang sudah go public, maka investor (terutama asing), lebih suka jika perusahaan transparan. Saya pernah tahu, bahwa saat perusahaan di tempat saya kerja akan IPO, saat prospektus mau di tayangkan ada kasus yang cukup besar…setelah berkali-kali meeting, pilihannya adalah tetap transparan dan dituangkan di dalam prospektus, serta ditulis pula rencana tindak lanjutnya. Ternyata investor asing sangat mengapresiasi, akibatnya harga saham bagus.
Shareholder dan manajemen setidaknya harus duduk bersama minimal beberapa kali dalam setahun, kesalahan selalu akan terjadi (bukankah manusia tak sempurna), namun yang penting adalah langkah perbaikannya.
edratna´s last [type] ..Mencoba makanan Korea di “Chaesundang”
pengalaman saya sih pak,sebagai freelancer,kegagalan malah musti dicantumin dalam diskusi atau portofolio,emang sih bakal mencemarkan nama sendiri,tapi malah terlihat lebih humanis.Ujung2nya dapet orderan lagi.hehe.
Hanif Mahaldi´s last [type] ..Postingan Keduaku di RuangFreelance