• RSS
  • Facebook
  • Twitter
25
January
Comments

Dalam suatu rapat pada sebuah perusahaan, Seorang Pemimpin Cabang perusahaan terlihat sedang marah-marah dengan salah seorang staffnya via telepon genggam. Sumber kemarahan adalah adanya laporan yang terungkap pada rapat yang menyatakan bahwa Cabang yang dipimpinnya memiliki tingkat kesalahan kerja yang tinggi. Karena merasa malu, maka dia ingin segera mengetahui siapa pegawainya yang telah mencoreng nama baik si pemimpin.

Sekian menit waktu berlalu untuk menginterogasi sang bawahan di Cabang, akhirnya didapatlah informasi yang memadai, bahwa kesalahan kerja yang terjadi bersumber dari seorang pegawai baru yang dinilainya tidak mumpuni. Dengan data ringkas yang dimiliki, sang pemimpin tampil dengan alibi.

Si Pemimpin Cabang : “Hmmm, Maaf pak pemimpin rapat, akhirnya saya mengetahui bahwa sumber semua malapetaka ini adalah pegawai baru saya, anaknya memang sulit untuk dibina”.
Pemimpin Rapat : “Kenapa sdr baru mengetahuinya hari ini? Tidakkah sdr memantaunya secara rutin di Cabang Sdr?”
Si Pemimpin Cabang : “Benar Pak Pemimpin Rapat, untuk hal yang ini luput dari pantauan saya, karena data yang saya miliki sangat terbatas”.
Pemimpin Rapat : “bukankah Sdr bisa mengaksesnya di Sistem Informasi perusahaan ini?”
Si Pemimpin Cabang : “Saya tidak sempat Pak Pemimpin, karena banyaknya tugas-tugas lain yang harus saya selesaikan”
Pemimpin Rapat : “Apa yang akan Sdr lakukan dengan keadaan ini?”
Si Pemimpin Cabang: “Saya akan menulis rekomendasi untuk memindahkan pegawai itu Pak Pemimpin Rapat”.

Akhirnya Si Pemimpin Cabang merekomendasikan kepindahan pegawainya yang dinilai telah melakukan banyak kesalahan sehingga menurunkan reputasinya diantara Pemimpin Cabang lainnya.
Ini adalah sepenggal kisah yang mungkin saja pernah terjadi dalam suatu perusahaan. Hanya untuk menciptakan rasa aman, seorang pemimpin mengambil suatu keputusan yang kadang tanpa suatu analisa yang mendalam (reaktif) bahkan kadang cendrung merugikan.

Dalam kasus ini, si Pemimpin Cabang buta akan peta risiko unit kerja yang dikelolanya. Walau hal teknis tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemimpin, namun dalam mengambil suatu langkah untuk mengurangi kemungkinan buruk yang terjadi, seharusnya si Pemimpin Cabang telah memiliki data yang mumpuni.

Selain data kejadian-kejadian risiko yang tengah dihadapi, si Pemimpin Cabang juga seharusnya mengetahui lebih dalam akar permasalahan yang terjadi. Mungkin saja kesalahan si petugas itu disebabkan karena kurangnya pelatihan yang didapatkan atau kurangnya pengalaman dan bimbingan. Kombinasi dari akar permasalahan itulah yang dijadikan langkah untuk mengendalikan agar kejadian ini tidak terjadi lagi (mitigasi).

Bisa saja si Pemimpin Cabang merekomendasikan pegawai itu untuk mengikuti beberapa pelatihan yang sesuai dengan lingkup kerja atau bahkan melakukan pelatihan secara intern Cabang melalui pegawai yang telah memiliki pengalaman dibidang kerja terkait, semua adalah langkah pengendalian yang responsif.

Out put dari pelaksanaan ini adalah berkurangnya tingkat kesalahan yang terjadi. Baik oleh si pegawai yang sering melakukan kesalahan atau pegawai lainnya dalam Cabang yang sama dan hal ini bisa dilakukan untuk kejadian-kejadian risiko lainnya. Kenalilah risiko yang terus mengikuti setiap aktivitas yang dilakukan, agar kita dapat melakukan suatu tindakan untuk mengurangi peluang terjadinya risiko tersebut.

:nerd

10 Responses so far.

  1. marshmallow says:

    tindakan yang diambil oleh sang pemimpin cabang menunjukkan bahwa sesungguhnya ia kurang memahami kondisi perusahaan yang dipimpin beserta seluruh stafnya. begitu mendapat masalah langsung melakukan tindakan praktis untuk menyelamatkan diri sendiri. padahal kalau ia lebih bijaksana, seperti uda helfi katakan, masih banyak yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan potensi perusahaan. bukankah staf yang baik merupakan sumber daya yang potensial?
    .-= marshmallow´s last blog ..TGIF =-.

    Yups, saya setuju dengan pernyataan Uni,…. karyawan merupakan sumber daya yang potensial dalam menciptakan “nilai tambah” bagi perusahaan,…. salam uni

  2. edratna says:

    Dan paling enak, adalah meindahkan orang tsb ke tempat lain. Tanpa ada pelatihan, maka orang tsb juga akan mengacau di tempat lain, seperti memindahkan penyakit.
    Mestinya bisa dilihat, apakah kesalahan tsb karena karakter atau memang kurang pelatihan? Jika kurang pelatihan bisa diikutkan dalam program pelatihan. Apalagi menurut cerita si atas, ybs masih pegawai baru.

    Sangat setuju Bu, kadang banyak keputusan pemimpin yang hanya bersifat keputusan praktis,… like n dislikenya yang dikemukakan, bukan melihat masalah secara jernih dan objektif

  3. Rindu says:

    Hidup adalah resiko, setiap pilihan adalah resiko, jangan takut untuk mengambil resiko karena ALLAH tahu hidup ini tidaklah mudah :)
    .-= Rindu´s last blog ..Punah … =-.

    Yups,…. hidup adalah risiko, kita tidak bisa terhindar dari risiko yang tengah kita hadapi,….

  4. bayuputra says:

    wah kalau langsung di pindahkan rasanya kurang tepat, bagaimana kalau di beri teguran dan arahan, berikan di kesempatan yg kedua kalau tidak bisa juga baru di pindahkan (hal memaafkan seseorang dan memberikan kesepatan untuk orang berubah menjadio baik, adalah permuatan yg mulia)..
    salam persahabatan blog dari saya Blog pemula dari Kalimantan Tengah..

    Salam kenal Pak,… maksih telah berkunjung kemari……. :shakehand2

  5. elizer says:

    Terkadang perusahaan inginnya Karyawan yang loyalitas terhadap perusahaan tanpa ada feedback bagi karyawannya sendiri.. cuuaabee deh ah…
    .-= elizer´s last blog ..Cannot View Flash Player Huh?? =-.

    Hubungan antara karyawan dan perusahaan harusnya berupa hubungan simbiosis mutualisme,.. saling menguntungkan

  6. tary says:

    kalo perusahaan memperhatikan karyawan, pastinya karyawan akan bekerja dengan loyalitas penuh.

    Yups,… tentunya mbak,…. udah kek simbiosis mutualisme,… :D

  7. AL says:

    Widih, langsung dipindahin… Gak ditegor dulu, tuh?

    Harusnya ditegur dan dicari tahu penyebabnya, tapi ini hanya contoh kasus kok bu,… klu pun terjadi sangat disayangkan

  8. menyetujui comandnya jeung rindu
    bolehkan om?heheh…
    salam hangat dari blue

    HEhehehe,… seppp…. Thx blue,….

  9. Mana yg lebih penting, output atau outcome?
    Anw setuju, penelaahan mendalam perlu dilakukan sebelum mengambil keputusan..
    .-= Eka Situmorang-Sir´s last blog ..Protected: Hari Penguburan Temanku =-.

    Kedua-keduanya penting, output maupun outcome,… output yang baik akan menghasilkan outcome yang tentunya baik… karena outcome merupakan hasil nyata dari luaran (output) suatu kegiatan. Terimaksih telah berkunjung… salam :Yb

  10. Sebenarnya, setiap karyawan merupakan aset potensial buat perusahaan. Cuma kadang-kadang kita memang mendapatkan aset yang tidak sempurna. Sekarang tantangannya ialah menyempurnakan aset yang tidak sempurna tadi menjadi aset yang menguntungkan buat perusahaan.
    Pimpinan cabang perusahaan ini nampaknya tidak menyadari bahwa tindakannya tidak memperbaiki masalah dasar dari manajemen pegawai tadi. Lain kali dia dapat pegawai baru yang mungkin sama jeleknya, dia akan mengulangi mutasi yang sama dan sampai kapanpun manajemen pegawai di perusahaan itu tidak akan pernah diperbaiki.

    Yups, memang benar, karyawan adalah aset utama suatu perusahaan, pemimpin seharusnya mempunyai kemampuan dalam mengelola karyawan yang dimilikinya. Kadang saat ini banyak pemimpin yang “manja”, pengennya punya anggota yang siap pakai, pemimpin seharusnya mampu mensiasati kelemahan ini. Salam kenal Mbak,.. maksih atas kunjungannya :shakehand2

Leave a Reply


CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

Komunitas Jiwa

  • Komunitas Blogger Sumbar
  • .
  • .
  • .