Muara dari seluruh risiko yang terdapat dalam suatu Bank bersumber pada strategi yang diterapkan.
Bagi perbankan Indonesia pada umumnya, risiko strategik dinilai kurang mendapatkan tempat yang istimewa jika dibandingkan dengan 3 risiko utama lainnya, yaitu: risiko kredit, risiko pasar ataupun risiko operasional. Hal ini disebabkan oleh sifat risiko strategik yang kualitatif dan belum bakunya metodelogi pengukurannya. Namun bukan berarti Bank dapat menganggap remeh risiko ini, karena jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan kerugian yang signifikan bagi Bank dan bahkan dapat menyebabkan kebangkrutan.
Hal ini pernah terjadi pada Midland Bank ditahun 1981 silam. Bank yang berpusat di Inggris raya ini harus menelan kerugian sekitar U$ 1,7 Miliar setelah mengakuisisi Crocker Bank yang nota bene berbeda konsentrasi usahanya. Dan yang masih segar adalah kasus Goldman Sachs dan Morgan Stanley yang terpaksa menjadi bank komersial setelah gagal akibat merugi di sub-prime mortgage. Dan bukan tidak mungkin kasus Midland Bank, terjadi pada perbankan Indonesia. Bank yang high regulated, tidak bisa menganggap enteng risiko strategik ini.
Risiko Strategik dapat didefinisikan sebagai potensi kerugian bank baik karena menurunnya pendapatan atau meningkatnya kebutuhan modal yang disebabkan oleh adanya penyimpangan/kesalahan atas keputusan/kebijakan bisnis, implementasi yang tidak sesuai dengan kebijakan atau karena kurang tanggapnya Bank terhadap perubahan kondisi eksternal yang terjadi. Risiko strategik berhubungan dengan keputusan-keputusan bisnis jangka panjang seperti Bisnis mana yang akan dikembangkan, atau bisnis mana yang menjadi prioritas utama, bahkan termasuk bisnis mana yang akan diakuisisi dan bisnis mana yang akan ditutup atau dijual.
Untuk mewujudkan tercapainya tujuan atas strategi yang telah dicanangkan tersebut, dibutuhkan strategi bisnis yang tepat, kebutuhan sumber daya untuk pencapaian strategi, kualitas implementasi, keterpaduan saluran komunikasi, sistem operasi, jaringan distribusi dan kapasitas serta kemampuan manajerial. Oleh karena itu sebelum risiko strategik menjadi populer seiring populernya merger atau akuisisi Bank dan krisis keuangan global, jangan anggap remeh Risiko Strategik.







![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)
pertmaxa
koment duhlu
bahru bahca
Intinya sebuah investasi mesti hati2 ya…..gitu nggak seh?
Barusan ikut acara Seminar Sehari Peluang dan Tantangan Sumbar Hadapi Krisis Keuangan Global. Pusing juga melihat angka-angka yang diperlihatkan dirut bank nagari… kenapa ya… kredit konsumtif dan pilihan aman bisa melibas kepentingan kerakyatan. kasihan kalau tidak punya sense of crisis. benar kalau BI kasih target kucuran, tapi bank selalu lihai untuk aman!
salahsatu pemicu Lehman Brothers hancur kurang memperhatikan ini juga ya da?
btw, artikel di blog sy silahkan di copas
duh……….sebuah penyuluhan perbankan yang bermanfaat buat kita. aku jadi nalu sama abang jika ternyata abang salah satu pemerhati perbankan sedangkan si blue terkadang gayanya udah kayak orang perbankan saat menulis karyanya yang berbau bankan bankanan……………..malu hati.
aku selalu senang bila abang mau datang ke rumahku. meski abang tak bercommand sebenarnya salah satu kebanggan bang buat si blue jika di kunjungi…………hala! bilang aza si blue emang ngarep banyak kunjungan ya,bang, hehehe…..
salam hangat selalu untuk keluarga abang.
ehmmm, nice posting. Kemudahan dalam memperoleh kartu kredit di setiap Bank, juga salah satu penyebabnya kali ya…!
Lg semangat pngen nyicil rumah, tp bunga kpr baru weleh2.. Mau tunai juga weleh2…
Justru Manajemen Bank harus paham tentang risiko Strategik ini. Saya ingat mantan COO saya, yang sekarang menjadi CEO Bank BCA…
Bahwa hati2 dalam membuat kebijakan, karena jika keliru akan berakibat jangka panjang, dan risiko akibat kebijakan ini sangat besar muaranya. Saat beliau cerita, risk management belum digalakkan (apa betul?)…pada dasarnya Bank adalah “High risk dan High regulation”….jadi sejak awal Bank didirikan telah bergumul dengan risiko…dan untuk selalu mengingatkan adanya risiko ini perlu digalakkan budaya risiko, antara lain mengelola risiko yang ada di bank tsb.
Sip….mantap….mudah2an bank2 bisa belajar dari pengalaman, dan mencoba mengkaji ulang kebijakan2nya supaya bisa mengurangi dampak resiko
resiko strategik….
hmmm…. ndak nangkap saya pak.
maklum gak ngerti ekonomi. hehehe
ijin copy bawa pulang yach bang.
permisi pak
dah lama ngga sowanan
rumah barunya bagus ni
Ya ALLAH jadikan pemilik blog ini manusia manusia pilihanMU yang berkeyakinan bahwa bumiMU yang terhampar luas adalah masjid baginya, kantornya adalah musholahnya, meja kerjanya adalah sajadah,
Kemudian fungsikan setiap tatapan matanya penuh rahmat dan kasih sayang sebagai refleksi dari penglihatanMU, jadikan pikirannya husnuzhan, tarikan napasnya tasbih, gerak hatinya sebagai doa, bicaranya bernilai dakwah, diamnya full zikir, gerak tangannya berbuat sedekah, langkah kakinya jihad fi sabillillah.
Selamat hari raya IDUL ADHA …
RINDU a.k.a ADE
met takbiran serta met lebaran ya bang
salam hangat selalu
bagi orang yang sangat awam seperti saya, mungkin perlu analogi sebagai contoh kasus yang lebih konkrit biar pesannya nyampe, da helfi.
maklum, saya memang belajar gratis dari blog, dan sangat menikmati membaca tulisan rekan-rekan yang bisa menambah wawasan saya.
aduh, berat mengertinya..tapi saya suka. Tulisan yang hebat euy. Tulisan berbobot yang hebat
melihara gajah aja harus ada strategi apalagi pelihara Bank yo avar…hehe
ondeh lamo indak kasiko, tp avar ruponyo sibuk juo, alun byk update
hehe sorry pelihara BANK maksudnyo
met hari raya idul adha bang…
selamat malam bang………
bang…lama nich tak ku lihat tulisan abangku lagi.
sibuk ya,bang?
salam hangat selalu
Met malam bang………..
jam sebelas datang ya ke blog aku!
salam hangat selalu
Risiko Strategik dapat didefinisikan sebagai potensi kerugian bank baik karena menurunnya pendapatan atau meningkatnya kebutuhan modal yang disebabkan oleh adanya penyimpangan/kesalahan atas keputusan/kebijakan bisnis, implementasi yang tidak sesuai dengan kebijakan atau karena kurang tanggapnya Bank terhadap perubahan kondisi eksternal yang terjadi….
Kebanyakan terjadi di pengambil keputusan, disebabkan analisis bisnis yang lemah, tanpa data dan statistik yg akurat, penuh asumsi dan naluri bisnis yg kurang tajam… Kayaknya di pemerintahan kita banyak yg kayak gini Pak hehehe….
Hm,mesti baca pelan-pelan,biar ngerti….
Maklum da, emak-emak….hehehehe…
bang…………….
pa cabar?
maaf blue baru datang menyapa abangku ini, sedang sibuk sibuknya pasti,
salam hangat selalu untuk keluarga abang disana.
Met Tahun Baru ya,bang