JALANAN GAMBAR NEGERI
Jika kita ingin melihat bagaimana gambaran bangsa ini, tidak usah jauh-jauh, tidak perlu biaya mahal, dan tidak butuh perjuangan tinggi, cukup murah dan mudah, lihatlah bagaimana warga negara ini jika sedang dijalan raya, penuh dengan gambaran keributan, keegoisan, keganasan, sangat tak beraturan, penuh carut-marut, tanpa aturan dan sifat-sifat liar lainnya, silahkan ditambahkan.
Gambaran seperti inilah yang terpampang jelas dimata, dalam setiap perjalanan rutin menuju kantor tercinta. Dimulai saat baru keluar dari persimpangan rumah, ada anak muda berseragam sekolah, putih-biru, melintas tanpa helm dikepala, boncengan dua. Melintas pertanyaan di kepala, apakah aspal telah menjadi lunak pagi ini, hingga helm pun tidak usah dipasang lagi? Apakah mereka tidak punya orang tua yang menyayangi, hingga diusia sangat dini berani bermain dengan mati?
Berikutnya, masih dipersimpangan yang sama, sebuah angkot dengan kuasanya mengangkangi jalan raya, karena ada beberapa penumpang yang mengahadang, tentunya itu sebuag rezeki dan tanpa mau menepi, sang sopir angkot dengan tenang menunggu. Siapakah yang salah, penumpangkah yang tidak tahu dimana harus menunggu? Sopir angkotkah, yang tidak tahu dimana harus berhenti? Atau pemerintahkah, yang tidak memberi tempat angkot untuk berhenti?
Kekacauan-kekacauan ini terus mengikuti, baru memasuki jalan utama, saya langsung berhadapan dengan pengemudi yang lupa diri, inginnya menang sendiri, merasa dialah yang harus diperhatikan, didahulukan, sehingga bebas menekan klakson bila lawan didepan sedikit lamban. Lengkaplah, sahut menyahut klakson sebagai tanda untuk bergegas pergi.
Lain lagi saat memasuki area sekolahan, dimana banyak orang tua yang mengantar anaknya bersekolah, dengan seenaknya memarkir kendaraan dimana saja, hingga jalanan yang tersisa hanya cukup untuk saya sendiri. Harap maklumlah, karena ini anak tersayang, tentunya harus ditemani, biar muncul percaya diri.
Anak sekolah berseragam putih-biru dengan motornya, sopir angkot dengan angkotnya, pengemudi dengan kendaraan yang dikemudikannya, adalah orang-orang dengan kekuasaannya, kekuasaan selalu berbanding lurus dengan kepemilikan. Tinggi rendahnya kekuasaan, ditentukan banyak sedikitnya “hak milik” dan risiko terdekat orang yang sedang memiliki adalah menjadikan hak miliknya sebagai orientasi kepentingan, pada saat itulah muncul rasa menguasai, tidak menghargai dan cendrung menang sendiri. Tapi pada saat kekuasaan itu tidak lagi disisi, mereka kembali seperti pejalan kaki, yang hanya bisa meratapi.
Subscribe to the RSS feed and have all new posts delivered straight to you.




![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)
katanya untuk mengetahui pribadi seseorang bisa di lihat caranya membawa kendaraan
hehehe saya mah tertib, kendaraan kaki dua
*
*selalu jalan kaki ke kantor
Dan… dimana polisinya?
Btw, trims sudah berkunjung…
” Tapi pada saat kekuasaan itu tidak lagi disisi, mereka kembali seperti pejalan kaki, yang hanya bisa meratapi..”
Hmm…bener…bener..
dan sepertinya ini sudah jadi makanan sehari-hari yang tidak enak, tapi terpaksa untuk ditelan.. kasihan bangsa ini.
(
Dan jangan lupa…di jalanan sekarang lebih sering pake DOA. Biar selamat sampai perjalanan.
Tanpa bermaksud membangun pesimistis, jika melihat kondisi seperti ini, saya juga kesal. Apalagi Sepeda motor. ugh sradak sruduk melintas bikin nggak nyaman bawa mobil. Alhasil menggerutu sendirian, Salahnya bukan tidak adanya sosialisasi beberapa instansi yang menaungi urusan rapi di jalan raya. Tapi melihat kondisi seperti yang terjadi saat ini. Masyarakat yang teledor sendiri yang begitu cuwek gak mau peduli akan keselamatan dirinya dan kenyamanan pihak lain. Salahnya lagi pelaku malah tutup kuping dengerin ceramahan untuk bersikap baik di jalan. Giliran accident aja…baru berasa nyeselnya. So apa yang harus kita ingatkan ya….?
ah ya, tapi pejalan kaki juga kadang suka sembarangan, sembarangan nyebrang jalan
saya contohnya
wooo skrinsut nya bagus..
betul, kalo liat suasana jalan di Jabotabek, memang mencerminkan watak penghuninya.
tapi kalo lagi pulang kampung, huuuuuh, nyaman adem. senyaman dan seadem orang kampung.
kok gambarnya gak muncul yak..
saya suka tulisan anda, cukup inspiratif untuk di renungkan di keheningan malam
http://esaifoto.wordpress.com
“Tapi pada saat kekuasaan itu tidak lagi disisi, mereka kembali seperti pejalan kaki, yang hanya bisa meratapi.”
—————————————
Peradapan suatu bangsa bisa dilihat dari bagaimana mereka memperlakukan pejalan kaki ( atau dilihat dari kondisi trotoar).
—————————————–
Seseorang pernah mengatakan hal ini kepada saya beberapa tahun yg lalu.
Salam
sebenarnya mereka bukan bermain dengan kematian……!
mereka cuma blum ada kesadaran untuk melakukan sesuatu……!
kondisi yang demikian memang memprihatinkan, tak jarang kecelakaan terjadi akibat ulah pengguna jalan yang seenaknya saja berkendara. untuk mengatasi hal ini, benar-benar dibutuhkan kesadaran pribadi bagi seluruh pengguna jalan, agar menaati setiap aturan yang ada. patuhi lampu lalu lintas dan berkendaralah dengan benar. selain itu, perlu juga ketegasan dari pemerintah juga polisi, dalam menetapkan beberapa peraturan. polisi jangan malas tuk mengatur lalu lintas.
“seseorang melakukan kejahatan karena ada kesempatan”
sama dengan seorang yang melanggar lalu lintas karena ada kesempatan dan polisi tidak melihatnya.
Mas…
mungkin sebagian orang prinsipnya sama kayak
sayagini… bahwa peraturan lalulintas itu ada untuk dilanggar bukannn???….hahahahhaha…
hallo, apa khabar mas… main2 kerumah silly yg baru yach
C U there…
kalo di MEDAN sudah biasa serobot sana serobot sini
tapi mo bilang apa sudah menjadi kebiasaan masyarakat
yang suka terburu-buru..
kalo dah di tilang polisi alasannya: “mo cepat niy pak, dah kebelet.”
hehehehe….
ya begitulah ….
emang sudah membudi daya…
kapan ya negeri kita tertib???
kadang2 mereka merasa yg paling hebat, merasa yg paling gagah, merasa yg paling berani, merasa yg paling paling dibanding yg lain … padahal kalau mereka berani berfikir sedikit apa yg mereka lakukan, pasti! mereka akan merasa sangat malu bahkan kpd anak kecil yg tdk mengerti apa2 … pertama mencoba, kedua menjadi biasa, ketiga menjadi budaya … susah kalau sdh berakar dan mendarahdaging … tp semoga dg memberi contoh yg baik kpd lingkungan dan orang disekitar kita, smg mereka terinspirasi untuk merubah semua, kalau semua berjalan sesuai semestinya … dunia pasti akan lebih indah … betul gak?
Namanya juga Inddonesia mas.
waduhhhh kok serem amat ya….kalau sya masih optimis ama Indonesia…karena apa…setiap menyaikan lagu Indonesia Raya…masih banyak yang tergetar hati nya….mungkin kita lebih banyak menyaikan lagu itu ya…
kayaknya kalau dinalogikan, hidup di indonesia itu kayak hidup dijalanan dimana yg kuat yg menang…yg boleh punya mimpi cuma mereka yg pintar ‘berkelahi’
Jalan adalah milik mereka yg kuat. Di negeri ini, tak ada kesempatan utk pejalan kaki sebab mrk adalah yg terlemah, bahkan trotoar pun bukan miliknya – tapi milik PKL. Satu-satunya kesempatan berkuasa di jalan adalah dgn membunyikan klakson keras2 atau menyerobotnya sekalian.
ya begitulah setiap pagi.
tidak hanya di kota besar. di payakumbuh pun seperti itu.
kadang pas lagi bawa mobil suka kesel kalok ada biker yg pecicilan maen potong, nggak nyadar kalok pas lagi bawa motor jg suka pecicilan githu
jadi inget dulu pas masih ngekos di Djokdja, kalok pikiran lagi buneg, suka ngebut malem2 di ringroad, nyelib diantara mobil di gejayan & ngepot2 di jakal *aaah..masa muda yg penuh kenangan*
Orang bilang saya Indonesia banget … mungkin karena saya orang Aceh campuran Sunda yah, jadi Indonesia banget
Ass.
yah…….begitulah bangsa ini……..kayaknya kita harus mulai lebih baik dari diri sendiri………..ini juga disebabkan ulah pemimpin kita.
semoga ke depan , jalannya lebih baik ya Bang
mantap gambarnyo ndan… buliah minta tu…
walaupun begitu kita tetap cinta kan sama negara kita ini…??? klo di suruh pindah kewarganegaraan ai ga mau tuh
Aku Cinta Endonesa saja……………….:mrgreen:
gambarnya koq terkesan serem. ya…
yuppp….hidup matiku buat…..sia…….udah bro…baru hari ini buat tulisan terbaru….(dhycana.wordpress.com)
Yaah begitulah Bro! kebanyakan penduduk kita, trus gimana bangsa ini mau ber adab kalo untuk mengenyam pendidikan saja rakyat ini harus bayar mahal! pemerintah kita sibuk korupsi dan menindas secara tidak langsung ataupun langsung, aaiih malangnya
Btw, nice analogy story!
hidup emang susah ditebak….kadang kita bisa survive dengan keadaaan yang ada sekarang, kadang pengennya mo mati cepet aja. Hmm….daku aja ampe skrg bingung mo nyiasatin hidup seperti apalagi supaya kita semua bisa menikmati dan menjalani hidup dengan damai tanpa iri hati, dengki, busuk hati dan segala yang berkaitan dengan hati….Karena permasalahan yang ada saat ini terkait dengan hati, jika hati tenang nggk ada yang berkuasa, nggk ada yang seenaknya, nggk ada yang mo menang sendiri…..Jagalah Hati (nggk usah dinyanyi’in)..
Yeah ini akibat sangat gampangnya mendapatkan SIM. Jadi mereka tidak tahu peraturan sama sekali dan tidak peduli kalo kita ini membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Wak labiah suko lewat banda bakali om…
heuhuheuue …. itu laaah the jungle megapolitaaann… kacaw balaw….
atau pada punya nyawa 12 kaleee heuhueheu
OOT nih… inget “pengemudi yang merasa paling berkuasa”, jadi keinget pas jalan ma temen2 sekantor, jalanan memang padat hari itu, kadang macet disana-sini. lagi “asyik” ngantri, kendaraan di belakang kami, terus menerus mijit klaksonnya sambil tereak2…
temen saya yang nyetir bilang gini, “Tenang dong pak, kita jg ga niatan nginep di tengah jalan…!”
Betul ya, sekarang jalan kita rusak. Di mana-mana.
iyah..
Belum ada tulisan baru yah …
Ya, memang indah. sangat indah malah. tapi kenapa tidak bisa bersatu ya? hiks.. ^OOT^
I LOVE INDONESIA
tapi untuk para mentri-mentrinya NAXXX BANGXXX SEMUA
mengerikan, itulah negeri kita avar. d
dimanapun uni pernah tinggal, walau gak byk sekali; padang (beberapa daerah), jakarta, aceh, medan, dan kalau berkunjung ke daerah lain seperti pekan baru, lampung, begitu juga, apakah kita telah kehilangan nurani?
Uji coba themes
ya…
Bumi,dunia milik yang berharta…tanpa mau tahu yang lain jadi menderita
Nyawa-nyawa jadi tak berharga,karena aturan dan undang-undang tak dibaca (dilirik aza tidak!)
Dunia…dunia…dengan manusia-manusia yang banyak rupa
Sampai-sampai ,Tuhan hanya bisa geleng-geleng kepala!
Tulisanmu…patut untuk jadi renungan,karena tanpa sadar kita mungkin juga sebagai pelaku hal-hal tersebut,jangan suruh orang lain untuk memulai,tapi memberi contoh dengan memulai melakukan yang terbaik buat semua,dari diri sendiri dulu…:P
Salam…