by avartara

Jika kita ingin melihat bagaimana gambaran bangsa ini, tidak usah jauh-jauh, tidak perlu biaya mahal, dan tidak butuh perjuangan tinggi, cukup murah dan mudah, lihatlah bagaimana warga negara ini jika sedang dijalan raya, penuh dengan gambaran keributan, keegoisan, keganasan, sangat tak beraturan, penuh carut-marut, tanpa aturan dan sifat-sifat liar lainnya, silahkan ditambahkan.
Gambaran seperti inilah yang terpampang jelas dimata, dalam setiap perjalanan rutin menuju kantor tercinta. Dimulai saat baru keluar dari persimpangan rumah, ada anak muda berseragam sekolah, putih-biru, melintas tanpa helm dikepala, boncengan dua. Melintas pertanyaan di kepala, apakah aspal telah menjadi lunak pagi ini, hingga helm pun tidak usah dipasang lagi? Apakah mereka tidak punya orang tua yang menyayangi, hingga diusia sangat dini berani bermain dengan mati?
Click to continue…
by avartara

Sudah menjadi pemandangan biasa setiap pulang kerja tepatnya diperempatan jalan Pemuda dan M. Yamin depan Plaza Andalas Padang, selalu dipenuhi anak-anak jalanan, mulai dari yang berumur 7 tahunan sampai 18-an. Selama beberapa tahun melewati jalan ini, saya rasa jumlah anak jalanan semakin bertambah, dan semakin parah. 2 tahun yang lalu saat saya pertama kali melewati jalan itu sepulang ngantor, jumlah anak jalanan baru sekitar 2-3 orang, tapi saat ini jumlah anak jalanan yang nongkrong bareng di perempatan itu sudah mencapai belasan anak.
Dengan profesi yang berbeda-beda, mulai dari pengamen sampai dengan peminta-minta, dengan asal daerah yang berbeda, dan dengan alasan yang berbeda pula yang membuat mereka harus rela terlempar kejalanan. Tentunya itu adalah pilihan terakhir bagi mereka, dan saya yakin menjadi anak jalanan bukanlah cita-cita yang mereka idamkan. Jalanan bukanlah tempat yang aman bagi pertumbuhan mereka karena pengaruh negatif seperti narkoba, tindak kriminal seperti merampok dan mencopet dengan mudahnya dapat merasuk dalam perilaku mereka.
Click to continue…
by avartara
Begitu besar dampak naiknya harga minyak dunia terhadap Perekonomian Indonesia. Sehingga APBN yang disusun Pemerintah direvisi dengan memotong pos-pos pengeluaran belanja Negara. Didalam tatanan perekonomian suatu Negara wajar halnya terjadi revisi atas APBN yang juga menyesuaikan dengan kondisi perekonomian internasional sebagai acuan penetapan asumsi-asumsi didalam penyusunannya.
Tapi hal yang begitu mengganjal di hati saya adalah pemotongan anggaran Pendidikan 10% atau sebesar Rp 4,918 T yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan. Hal ini pun disetujui oleh Komisi X DPR, wakil rakyat kita. Ditengah kemiskinan yang hampir mencapai 43% dari jumlah penduduk Indonesia, dengan jumlah pengangguran menurut Menakertrans yang diperkirakan akan terjadi penambahan pengangguran sebesar dua setengah juta orang tahun ini dan mutu Pendidikan di Indonesia yang tiap tahunnya tidak mengalami perkembangan yang berarti, pemangkasan anggaran pendidikan tersebut semakin meyakinkan saya bahwa Pemerintah tidak peduli dengan nasib Bangsa, bukankah kebodohan itu dekat dengan kemiskinan?
Namun Bambang Sudibyo “menenangkan” rakyat dengan berkilah bahwa pemotongan anggara itu bukan hal-hal yang menyentuh kebutuhan masayarakat seperti Dana BOS, gaji guru dan lainnya, tapi pos pendidikan yang dipotong adalah “Peningkatan Mutu Pendidikan”.
Apakah mutu pendidikan ga perlu diperhatikan? Apakah Pemerintah tidak tahu bahwa lebih dari 147 ribu anak-anak Indonesia terlantar dijalanan, dan 60 % nya sudah putus sekolah (data Departemen Sosial 2005) ? Apakah pemerintah tidak tahu bahwa kondisi itu akan menyebabkan kerusakan generasi penerus secara jangka panjang ?
Artikel terkait :
Pajak Kertas Pembodohan Bangsa
Anak-Anak dan Kemiskinan
Kelaparan dan Disfungsi Negara
Sikembar itu akhirnya tersenyum