Sakit hati, marah, kecewa dan berbagai perasaan buruk lainnya menghinggapi saat meyaksikan persidangan pansus century dengan beberapa saksi beberapa hari ini. Sakit hati yang sebenarnya sangat mudah untuk diakhiri, hanya dengan mematikan televisi, namun mata ini tetap terpaku pada sumber munculnya penyakit hati. Siang malam mata dan telinga ini dicerca dengan gambaran demokrasi yang berkembang dinegeri ini melalui diskusi para petinggi negeri. Walau saya tidak mengikuti dengan sungguh jalannya sidang, [...]
Archive for the ‘celoteh jiwa’ Category
19 september 2009, terakhir kalinya saya menulisi blog ini. Dengan postingan seadanya sebagai penanda bahwa rumah ini masih berpenghuni. Setelah itu tidak ada lagi, bahkan aktivitas berkunjung kerumah-rumah sahabat untuk sekedar meninggalkan jejak dan menyapa penuh hangat. Banyak hal yang telah terjadi, namun tidak ada satupun yang mampu ditulis untuk sekedar mengisi postingan blog ini. Seperti kejadian gempa 7,6 SR tanggal 30 September 2009 (G 30 S) lalu, yang sampai [...]
Debat Capres putaran ke tiga telah berakhir malam tadi dari serangkaian debat capres yang baru pertama kali dilaksanakan di negeri ini. Banyak hal yang dapat dicermati dari setiap pernyataan dan tingkah laku Capres terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh sang moderator. Dan tentunya setiap capres berusaha menampilkan yang terbaik yang dimilikinya, sikap terbaik, pemikiran terbaik, ide terbaik bahkan senyuman terbaik. Memang komentar atas pelaksanaan debat tak mungkin untuk dihindari ditengah kemudahan [...]
Dalam sebuah tulisannya, Anand Khrisna pernah menyampaikan bahwa “kebenaran itu sederhana”, dimana tidak dibutuhkan suatu kecerdasan yang tinggi untuk merasakannya. Namun saat ini kebenaran itu menjadi sulit adanya, disaat banyaknya pihak yang meracuni kebenaran dengan kata-kata termasuk dengan hukum dan pasal-pasal. Lihat saja gambaran jalan-jalan kota kita saat ini, terpampang ratusan foto, spanduk, poster dan atribut lainnya dan jika anda memiliki waktu, perhatikanlah sejenak permainan kata-kata dari setiap pajangan tersebut, [...]
Tertawa, begitu mudahnya diucapkan, namun begitu sulitnya dilakukan. Apalagi ditengah himpitan kesibukan pekerjaan, macetnya perjalanan, susahnya kehidupan dan permasalahan kepribadian lainnya. Mungkin itu pula alasan mulai bermunculannya klub-klub tertawa bagi mereka yang memang tak sempat dan sulit untuk tertawa. Namun hal ini tidak berlaku bagi si-bapak yang tidak sengaja saya jumpai, berwajah brewokan, ber-penampilan acak-acakan, telanjang dada dan rambut ala bob marley ini, dia selalu tertawa, kadang tersenyum dan tertawa [...]
Judul diatas adalah salah satu puisi pujangga ternama Indonesia, Taufik Ismail. Puisi yang berjudul “Tuhan Sembilan Senti” nyasar ke e-mail saya pagi ini. Pengirimnya sohib lama semasa nguli dahulu kala (1999 Masehi-2004 Masehi). Jreng…. Baris pertama puisi langsung saya baca “Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok” kemudian baris berikutnya “tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok”. Saya berhenti sejenak sambil matikan rokok yang lagi dihisap [...]
Sungguh bahagianya pagi ini, jalanan yang selalu menjadi pemicu stress setiap hari, begitu sepi dan damai sekali, sehingga perjalanan menuju kantor begitu mudah dijalani. Tidak banyak warga yang beraktifitas pagi ini, bahkan anak sekolahan pun tidak tampak sedari tadi. Angkot-angkot yang biasanya berseliweran manguasai jalan, lebih banyak ngetem di posnya masing-masing. Hanya pedagang dan beberapa pekerja kantoran lainnya yang masih beraktivitas seperti hari-hari biasanya. Suatu pemandangan yang tidak lazim dihari-hari [...]







![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)