Archive for the ‘celoteh jiwa’ Category



3
Jul

PILIHAN TERBAIK DEMI NEGERI

Debat Capres putaran ke tiga telah berakhir malam tadi dari serangkaian debat capres yang baru pertama kali dilaksanakan di negeri ini. Banyak hal yang dapat dicermati dari setiap pernyataan dan tingkah laku Capres terkait pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh sang moderator. Dan tentunya setiap capres berusaha menampilkan yang terbaik yang dimilikinya, sikap terbaik, pemikiran terbaik, ide terbaik bahkan senyuman terbaik.

Memang komentar atas pelaksanaan debat tak mungkin untuk dihindari ditengah kemudahan akses untuk berpendapat saat ini. Ada yang “mencibir” ada yang “tersenyum” bahkan ada yang “manggut-manggut” ga ngerti, ada yang berkomentar “pedas” ada yang berkomentar “manis” ada yang “panas” dan banyak juga yang berkomentar “dingin”, semuanya bebas berekspresi, hanya etika yang membatasi. Terlepas dari berbagai tanggapan atas pelaksanaan debat saat ini, tentunya sang penggagas memiliki maksud positif untuk bisa dipahami.

Click to continue…

25
Mar

Kebenaran Yang Sederhana

Dalam sebuah tulisannya, Anand Khrisna pernah menyampaikan bahwa “kebenaran itu sederhana”, dimana tidak dibutuhkan suatu kecerdasan yang tinggi untuk merasakannya. Namun saat ini kebenaran itu menjadi sulit adanya, disaat banyaknya pihak yang meracuni kebenaran dengan kata-kata termasuk dengan hukum dan pasal-pasal.

Lihat saja gambaran jalan-jalan kota kita saat ini, terpampang ratusan foto, spanduk, poster dan atribut lainnya dan jika anda memiliki waktu, perhatikanlah sejenak permainan kata-kata dari setiap pajangan tersebut, hampir seluruhnya menyatakan dirinya lah yang benar.

Click to continue…

6
Jan

Tertawa Seakan Gila

Tertawa, begitu mudahnya diucapkan, namun begitu sulitnya dilakukan. Apalagi ditengah himpitan kesibukan pekerjaan, macetnya perjalanan, susahnya kehidupan dan permasalahan kepribadian lainnya. Mungkin itu pula alasan mulai bermunculannya klub-klub tertawa bagi mereka yang memang tak sempat dan sulit untuk tertawa.

Namun hal ini tidak berlaku bagi si-bapak yang tidak sengaja saya jumpai, berwajah brewokan, ber-penampilan acak-acakan, telanjang dada dan rambut ala bob marley ini, dia selalu tertawa, kadang tersenyum dan tertawa lagi, bahkan mungkin non-stop selama 24 jam. Ya dialah orang gila yang sempat menyita perhatian saya ketika pulang kerja sore tadi.

Click to continue…

17
Nov

Tuhan Sembilan Senti

Judul diatas adalah salah satu puisi pujangga ternama Indonesia, Taufik Ismail. Puisi yang berjudul “Tuhan Sembilan Senti” nyasar ke e-mail saya pagi ini. Pengirimnya sohib lama semasa nguli dahulu kala (1999 Masehi-2004 Masehi).

Jreng…. Baris pertama puisi langsung saya baca “Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok” kemudian baris berikutnya “tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok”. Saya berhenti sejenak sambil matikan rokok yang lagi dihisap dalam-dalam (maklum ngerasa tersindir). Kemudian lanjut lagi, jret jret ops,..berhenti lagi pada baris “di kantor pegawai merokok” (emang) trus baca lagi lagi lagi lagi, dann berhenti di baris “bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok” (apa istri saya juga ngerasa kaya gitu ya) Astaghfirullah….Saya merasa “kerdil” saat baca puisi yang satu ini.

Menurut data yang sempat saya kumpulkan, bahwa ternyata untuk Provinsi Sumatera Barat saja Rokok (yang dibagi lagi menjadi 2, rokok kretek filter dan rokok kretek) termasuk 5 besar kategori komiditi penyumbang inflasi terbesar di Sumatera Barat. Kalau ditotal atas nama Rokok, maka rokoklah penyumbang terbesar inflasi di Sumatera Barat (Rokok Kretek Filter dengan share 0,19% dan rokok kretek 0,08%).

Setelah beberapa menit akhirnya puisi itu selesai saya baca. Terdiam sejenak dan memandang rekan sejawat yang ada diruangan kantor saya. Ada 2 (dua) orang yang lagi ngerokok. Sambil tertawa ringan saya posting tulisan ini.

Berikut Puisi “Tuhan Sembilan Senti” Click to continue…

23
Oct

Pilkada Padang Dan Harapan

Sungguh bahagianya pagi ini, jalanan yang selalu menjadi pemicu stress setiap hari, begitu sepi dan damai sekali, sehingga perjalanan menuju kantor begitu mudah dijalani. Tidak banyak warga yang beraktifitas pagi ini, bahkan anak sekolahan pun tidak tampak sedari tadi. Angkot-angkot yang biasanya berseliweran manguasai jalan, lebih banyak ngetem di posnya masing-masing. Hanya pedagang dan beberapa pekerja kantoran lainnya yang masih beraktivitas seperti hari-hari biasanya.

Suatu pemandangan yang tidak lazim dihari-hari kerja/sekolah rutin biasanya. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh warga kota Padang yang memiliki hak suara, tua muda bahkan orang mati pun mendapatkan kartu suara, akan menyalurkan aspirasinya dalam pemilihan Walikota Padang periode 2009-2014 pada hari ini.

Click to continue…

19
Oct

Si Bapak Dengan Saluang-nya Itu ..

Salah satu persamaan antara saya dan istri diantara puluhan perbedaan lainnya adalah memiliki hobi yang sama yaitu berwisata kuliner. Setelah hampir 3 minggu tidak berwisata kuliner yang tentunya disebabkan oleh kesibukan kami masing-masing, akhirnya tadi malam kami bersepakat untuk menjalani ritual ini. Diiringi hujan rintik, kami menetapkan tujuan ke suatu bofet yang menyediakan jenis makanan yang beragam, dengan cita rasa yang cukup lumayan dan harga yang relatif aman.

Sesampai ditempat tujuan, kami mengambil tempat duduk yang dekat dengan jalan, dengan harapan agar susana malam dapat ternikmati dengan hangatnya hidangan yang disajikan. Dengan sedikit kesabaran, akhirnya pesanan pun datang, tentunya segera disantap karena lapar yang sedari tadi menjangkiti badan.

Click to continue…

16
Sep

Tragedi Kemiskinan

Sungguh suatu pukulan hebat bagi kemiskinan di negara kita, 21 orang meninggal sia-sia hanya demi uang sebesar 30 ribu rupiah. Tragedi yang begitu memilukan jiwa itu terjadi di Pasuruan, Jawa Timur, setelah seorang warga yang semula berniat berderma dengan pembagian zakat namun berbuah bencana.

Begitu parahkah kemiskinan pada bangsa ini? hingga demi 30 ribu rupiah, ada yang rela mengorbankan jiwa. Memang penyebab bencana itu adalah tidak terkoordinasinya acara pembagian zakat tersebut, namun pada hakikatnya adalah membludaknya peserta yang ingin mendapatkan jatah cuma-cuma. Banyaknya peserta menggambarkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita berjuang demi menyambung hidupnya, walau ajal menjadi tantangan.

Click to continue…