Archive for the ‘celoteh jiwa’ Category
Srimulyani Dimata Avartara…….
Sungguh besar energi bangsa ini terkuras hanya untuk mengungkap kebenaran dibalik kasus Bank Century yang hingga saat ini “belum (mau)” terungkap jua. Media massa tak henti memborbardir opini masyarakat dengan pemberitaan-pemberitaan, diskusi-diskusi dan analisa-analisa yang kadang dinilai semakin berpihak dan cendrung mengadili.
Memang itu hanya pendapat saya sebagai orang yang bukan apa-apa. Dan tentunya setiap orang bebas memiliki sikap, pro atau kontra maupun tidak berpihak, itu sah-sah saja. Namun jangan menyamaratakan pendapat atas nama rakyat, karena “rakyat” yang diperjuangkan melalui demo-demo dan celoteh para pakar itu bukanlah keseluruhan rakyat, salah satunya saya yang merasa tidak “diperjuangkan” dengan apa yang pendemo dan pakar elukan dan lakukan.
GEMPA (LAGI………)
Hidup didaerah yang rawan bencana mengharuskan setiap penghuninya waspada akan bahaya yang selalu siap untuk mengancam setiap saat, salah satunya kota Padang yang tercinta ini. Kota yang yang terletak di pantai barat Pulau Sumatera dan terletak antara 0° 44′ 00″ dan 1° 08′ 35″ Lintang Selatan serta antara 100° 05′ 05″ dan 100° 34′ 09″ Bujur Timur ini, berada dalam zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia yang tentunya saja siap mengeluarkan gempa tergantung perintah si pemilik-Nya.
Dan itu terbukti, gempa itu kembali lagi, ya kembali lagi mengingatkan seisi negeri. Tepat jam 11:38:56 WIB tadi (05/02/2010) gempa dengan kekuatan 4.8 SR mengguncang kota Padang tanpa permisi. Memang tidak terlalu besar namun cukup membuat hati bergetar. Saya yang sedari pagi sibuk mencetin keyboard si kompie, harus rela melarikan diri. Begitu juga dengan penghuni kantor lainnya, yang tentunya tidak akan pernah lupa dengan kejadian gempa 30 September tahun lalu.
Bapisah Bukannyo Bacarai
Bapisah bukannyo Bacarai (berpisah bukannya bercerai), lagu inilah yang dinyanyikan salah seorang karyawan dalam acara pelepasan karyawan dalam masa persiapan pensiun (MPP) dikantor saya sore ini. Salah satu lagu berbahasa minang yang menggambarkan perpisahan 2 insan yang saling mencinta, si pemuda merantau meninggalkan kampung halaman dan kekasih tercintanya, namun perpisahan itu bukanlah sesuatu yang membuat mereka tidak akan berjumpa selama-lamanya, karena sang kekasih pasti akan menunggu untuk berjumpa disuatu saat nanti. Mungkin melalui lagu ini tersimpan harapan, untuk tidak melupakan mereka disaat tidak lagi memiliki konstribusi pada perusahaan ini.
Acara pelapasan karyawan MPP memang rutin dilakukan dikantor saya ini, dimana pada ulang tahun kita yang ke-55 tahun, akan dirayakan secara bersama dan bahkan dihadiri oleh Pimpinan Tertinggi (Direksi). Suatu hal yang mungkin jarang terjadi pada ulang tahun-ulang tahun lainnya yang pernah dilewati.
PROMOSI DAN ARISAN
Pagi ini seorang sahabat mengirim pesan melalui SMS, yang secara garis besar isinya menyatakan ketidakpuasannya atas keputusan promosi beberapa rekan se-unit kerjanya. Ketidakpuasan yang bersumber dari hasil penilaiannya secara pribadi terhadap kemampuan rekan-rekan lainnya yang dipromosi. Mulai dari kualitas kerja, pengalaman dalam mengambil keputusan atau pendidikan serta pelatihan yang telah dilewati, semua menjadi indikator suatu ketidakpuasan atas keputusan ini. “Kenapa dia yang harus dipromosi, secara nilai akhir tahun saya yang selalu tertinggi, volume pekerjaanpun masih saya yang miliki” begitu isi penutup SMS sahabat tersebut.
Lalu saya menimpali “udah kamu diskusikan dengan dengan pimpinanmu?” tentunya beliau punya alasan kenapa mereka yang dipromosi bukan kamu?”. Sahabat itu dengan berapi menyikapi “Udah aku bicarakan berulang kali, namun Bosku bilang bahwa aku harus bersabar, semua ada gilirannya. masa promosi didasarkan giliran, emangnya arisan”.
Produk “TabunganKu” dan Nasib Bank-Ku
Dalam menyambut pencanangan tahun 2010 sebagai “Tahun Menabung Nasional”, Bank Indonesia sebagai regulator perbankan Indonesia memfasilitasi terbentuknya suatu produk tabungan bersama yang disebut dengan “TabunganKu”.
Secara filosofi, “TabunganKu” merupakan suatu produk tabungan untuk nasabah perorangan dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama oleh Bank-bank di Indonesia (bagi yang berminat) guna menumbuhkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Bank Indonesia sebagai bank sentral Negara Republik Indonesia, selain sebagai wujud kepedulian sosial perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk tabungan yang tidak dibebani biaya administrasi, produk tabungan ini juga disinyalir dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui budaya menabung.
Jika kita bandingkan dengan tujuan Bank Indonesia sebagai bank sentral, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui tiga pilar utama 1) menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, 2) mengatur dan menjaga sistem pembayaran dan 3) mengatur dan mengawasi bank, penawaran produk “TabunganKu” untuk perbankan Indonesia masuk dalam fungsi Bank Indonesia yang mana?
Teater Politik Negeri Ini
Sakit hati, marah, kecewa dan berbagai perasaan buruk lainnya menghinggapi saat meyaksikan persidangan pansus century dengan beberapa saksi beberapa hari ini. Sakit hati yang sebenarnya sangat mudah untuk diakhiri, hanya dengan mematikan televisi, namun mata ini tetap terpaku pada sumber munculnya penyakit hati.
Siang malam mata dan telinga ini dicerca dengan gambaran demokrasi yang berkembang dinegeri ini melalui diskusi para petinggi negeri. Walau saya tidak mengikuti dengan sungguh jalannya sidang, karena pekerjaan yang menghadang, namun telinga tetap mendengar dengan lantang setiap kalimat yang terucap baik dari anggota pansus maupun para saksi.
Kembali Lagi………..
19 september 2009, terakhir kalinya saya menulisi blog ini. Dengan postingan seadanya sebagai penanda bahwa rumah ini masih berpenghuni. Setelah itu tidak ada lagi, bahkan aktivitas berkunjung kerumah-rumah sahabat untuk sekedar meninggalkan jejak dan menyapa penuh hangat. Banyak hal yang telah terjadi, namun tidak ada satupun yang mampu ditulis untuk sekedar mengisi postingan blog ini.
Seperti kejadian gempa 7,6 SR tanggal 30 September 2009 (G 30 S) lalu, yang sampai saat ini masih meninggalkan trauma dan luka yang sangat mendalam. Bagaimana perjuangan pulang dari kantor kerumah yang penuh dengan perasaan takut dan pilu. Takut akan terjangan tsunami dan pilu menyaksikan reruntuhan gedung-gedung perkantoran, perumahan, api yang berkobar, seakan saat itulah ajal menjelang. Suatu pengalaman kematian yang takkan pernah terlupakan.





![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)