17
Jun
18

BANKIR DAN RISIKO

Risiko merupakan suatu hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Pada saat kita beraktivitas selalu dibayangi oleh risiko bahkan diam-pun mengandung risiko. Pepatah minang pernah menyatakan “Jan barumah di tapi pantai kok takuik diguluang ombak” artinya jangan berumah di tepi pantai jika takut diterjang ombak. Begitulah risiko, selalu menyertai segala tindakan kita, dan malangnya risiko tidak dapat dimusnahkan dan dihilangkan akan tetapi risiko masih dapat dihindari dan dikurangi (mitigasi).

Profesi yang tengah kita geluti saat ini tentunya mengandung risiko, mulai dari risiko yang rendah yang berdampak ringan sampai dengan risiko yang tinggi dan berdampak sangat besar baik terhadap kondisi finansial maupun non-finansial kita (psikis).

Bankir merupakan salah satu profesi yang rentan terhadap risiko, karena risiko bagi bankir dapat muncul baik dari produk yang ditawarkan, transaksi yang berlangsung, maupun dari keputusan-keputusan bisnis yang pernah diambil. Bahkan tak jarang keputusan yang salah beberapa tahun yang lalu berdampak hingga saat ini.

Seorang bankir dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak dalam menjaga dan mengembangkan dana masyarakat yang dititipkan ke banknya, termasuk memberikan layanan yang layak bagi nasabahnya. Bagi bankir yang dalam menjalankan tugasnya tidak paham dengan prosedur, peraturan-peraturan yang mengikat baik secara intern maupun ekstern, bersiap-siaplah diterjang ombak, bisa berupa terjadinya kesalahan prosedur, pelanggaran ketentuan perundang-undangan yang berlaku, bahkan penyalahgunaan wewenang. Bagi bankir yang telah paham dengan prosedur dan peraturan-peraturan-pun masih tak luput dari risiko, dengan pemahamannya malah muncul fraud (kecurangan), seperti: penipuan, pemalsuan, pencurian dan hal-hal terkutuk lainnya dan akhirnya bisa berakhir di penjara.

Dalam kondisi bisnis yang demikian ketatnya, dengan risiko-risiko yang terus membayangi, manajemen risiko menjadi pengaman yang mutlak dikuasai bankir. Karena dengan memahami manajamen risiko, minimal seorang bankir mampu mengidentifikasi risiko-risiko yang tengah dihadapi, mampu mengukur sejauh mana dampak dari risiko tersebut dan kemudian mampu memantau serta mengendalikan risiko tersebut.

Enjoyed reading this post?
Subscribe to the RSS feed and have all new posts delivered straight to you.
18 Comments:
  1. Wempi 17 Jun, 2008

    Bang Kir emang suka resiko…

    Bang Kir ada juga yang jual bakso

  2. Yoyo 18 Jun, 2008

    yang dibahas itu bankir atau broker Kang ?

    Bankir kang,….abang tukang parkir

  3. unai 18 Jun, 2008

    makin matap saja tulisannya..lama ndak mampir sini nih, apa kabar?

    Baik unai,….silahkan duduk dulu sambil minum teh hangat :)

  4. Rindu 18 Jun, 2008

    Bangkir itu abang nya siapa sih? halah …

    Abangnya kita semua,………:),..mksih dah mampir ya

  5. realylife 18 Jun, 2008

    wah , saya malah tertarik sama fotonya , koleksi di mana ya ?
    antik banget

    hahaha,..fotonya ya? itu koleksi lama, ga tahu alamtnya dimana,..jadi ga disebutin dari mana asalnya,….

  6. harfianto 18 Jun, 2008

    bangkir itu yang mana sih… salam kenal

    Salam kenal,……mari minum kopi dulu :)

  7. bobby 19 Jun, 2008

    Bankir merupakan salah satu profesi yang rentan terhadap risiko

    cuma penasaran aja bankir disini kira-kira pa ya?
    pemilik bank, pegawai bank, AO atau teller?
    atau seorang yang ngurusin keuangan orang lain?
    :)

    Bankir yang dimaksud dalam tulisan ini adalah setiap petugas/pejabat Bank yang berperan dan bertanggung jawab atas seluruh proses penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat, seperti: Account officer (AO), Funding Officer (FO), Teller, Pemimpin Cabang, Pemimin Divisi, Direksi sampai dengan pemilik Bank.

  8. Rita 19 Jun, 2008

    Foto.. Kalo liat penampakannya kayaknya sih itu foto zaman baheulak bgt, kayak penjaranya Napoleon Bonaparte hahah:D
    Kalo tukang bakso kudu taw management resiko juga ya mas…..hehehe…(srius ko’;)
    Kesimpulan…….Bankir….Bagi bankir yang blum paham betul prosedur, peraturan-peraturan yang mengikat secara intern maupun ekstern, Kudu Belajar Lebih Baik dan Menguasai, Memahami Management resiko.. (sok taw amat ya :))
    Bagi yang telah paham prosedur dan peraturan-peraturan, perbanyak dzikir, ibadah, pendekatan diri kepadaNya agar terhidar dari godaan “kemilau duniawi” (kayak pak ustdz aja) :)
    Untuk “Jan barumah di tapi pantai kok takuik diguluang ombak” artinya jangan be bankir kalo takut korupsi…. ehh salah, kalo takut resiko maksudnya :D
    Jd bukan lari dari resiko, melainkan harus di hadapi, menaklukkannya..( lah maksudnya apa ya???) akhhh udah ah… gak slese2 deh nantinya….

    Wah udah bisa jadi poostingan baru ne mbak,….maksih atas tambahannya

  9. boyhidayat 19 Jun, 2008

    hidup itu resiko toh ?

    Yups hidup juga risiko,….

  10. juliach 19 Jun, 2008

    kalo tak mo ambil resiko, suruh aja booking tanah sepetak …itu pun minta kredit…….

    hahahahaha,.. :)

  11. abdullah khusairi 19 Jun, 2008

    hidup saja kita sudah punya resiko. mati. kalau terlalu mempertimbangkan resiko, ya tak bisa hidup. hidup mengalir. pertimbangan resiko dengan nalar dan pengetahuan yang luas agaknya merupakan peran akal. menurut aliran pemikiran rasionalisme, semuanya adalah rasio. tetapi sebenarnya ada juga peran penuh misteri kekuatan hukum alam. cuma, menggali pengetahuan hukum alam butuh kearifan dalam membaca zaman. ini sebenarnya dilakukan oleh siapa saja, dengan mengasah naluri dan insting terhadap masa depan.

    Memang hidup tak kan lepas dari risiko,…dan risiko itu musti dihadapi,…ga mungkin dihilangkan,…..

  12. zoel chaniago 20 Jun, 2008

    kalau takut ama resiko kapan majunya :D

  13. ubadbmarko 21 Jun, 2008

    Apa lagi setelah kenaikan BBM, Resiko dapur semakin rumit.

  14. realylife 22 Jun, 2008

    permisi nyari postingan terbaru
    misi

  15. Gung De 23 Jun, 2008

    Wah… image contentnya serem banget. Kaya Bang Kir yang lagi Bang Krut. :)
    Salam knal.

    Salam kenal kembali,….terimaksih telah mampir,..minum kopi dulu sambil ngerokok,….:)

  16. helidda 23 Jun, 2008

    mau tanya sekaliyan nih pak bangkir :)
    katanya sekarang aturan di perbangkirannya, setiap kolateral yang berupa aktiva tetab kudu diappraisal scr periyodik yah? benarkah? dan kalok benar, setiyab brapa tahunkah?
    trus katanya kolateral itu kudu diasuransikan juga yaak? :?

    maab… banyak tanyaaa.. komen nggak.. :mrgreen:

    Yah jadi ngasih rubrik tanya jawab neh,…….haahha,..saya coba deh Mas, mudah2an ga salah,…tapi jgn percaya bener lho,…:) yups memang bener neh mas,..sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) no 9/6/PBI/2007 tentang penilaian kualitas aktiva Bank umum, disalah satu pasalnya memang menyatakan penilaian agunan minimal dilakukan 1 kali dalam 2 tahun bagi kredit dengan kualitas lancar, dan 1 kali setahun bagi kredit yang mengalami pemburukan kualitas,…. dan penerapan ketentuan ini tentunya berbeda-beda antara 1 bank dengan bank lainnya, ada yg menjalankan sesuai dengan PBI dan ada pula Bank yang melakukan penilain agunan setiap tahunnya (lebih ketat).
    dan yups skali lagi, setiap agunan musti diasuransikan.

  17. helidda 23 Jun, 2008

    maangaab..skali lagi… males login, jd pinjem id istri :)

  18. erander 23 Jun, 2008

    Dalam dunia bisnis dikenal dengan istilah .. high risk, high return .. jadi kalo risiko nya tinggi, sepanjang hasil yang diperoleh juga tinggi .. biasanya tetap dijalankan. Masalahnya, kadang kala .. jeblok juga.

    Btw .. kaya’nya bener tuh .. bankir itu singkatan dari abang tukang parkir ya?

    hehehehe, abang tukang parkir yang kereennnn….:)

Post your comment
[+] kaskus emoticons nartzco