• RSS
  • Facebook
  • Twitter
17
June
Comments

Risiko merupakan suatu hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Pada saat kita beraktivitas selalu dibayangi oleh risiko bahkan diam-pun mengandung risiko. Pepatah minang pernah menyatakan “Jan barumah di tapi pantai kok takuik diguluang ombak” artinya jangan berumah di tepi pantai jika takut diterjang ombak. Begitulah risiko, selalu menyertai segala tindakan kita, dan malangnya risiko tidak dapat dimusnahkan dan dihilangkan akan tetapi risiko masih dapat dihindari dan dikurangi (mitigasi).

Profesi yang tengah kita geluti saat ini tentunya mengandung risiko, mulai dari risiko yang rendah yang berdampak ringan sampai dengan risiko yang tinggi dan berdampak sangat besar baik terhadap kondisi finansial maupun non-finansial kita (psikis).

Bankir merupakan salah satu profesi yang rentan terhadap risiko, karena risiko bagi bankir dapat muncul baik dari produk yang ditawarkan, transaksi yang berlangsung, maupun dari keputusan-keputusan bisnis yang pernah diambil. Bahkan tak jarang keputusan yang salah beberapa tahun yang lalu berdampak hingga saat ini.

Seorang bankir dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak dalam menjaga dan mengembangkan dana masyarakat yang dititipkan ke banknya, termasuk memberikan layanan yang layak bagi nasabahnya. Bagi bankir yang dalam menjalankan tugasnya tidak paham dengan prosedur, peraturan-peraturan yang mengikat baik secara intern maupun ekstern, bersiap-siaplah diterjang ombak, bisa berupa terjadinya kesalahan prosedur, pelanggaran ketentuan perundang-undangan yang berlaku, bahkan penyalahgunaan wewenang. Bagi bankir yang telah paham dengan prosedur dan peraturan-peraturan-pun masih tak luput dari risiko, dengan pemahamannya malah muncul fraud (kecurangan), seperti: penipuan, pemalsuan, pencurian dan hal-hal terkutuk lainnya dan akhirnya bisa berakhir di penjara.

Dalam kondisi bisnis yang demikian ketatnya, dengan risiko-risiko yang terus membayangi, manajemen risiko menjadi pengaman yang mutlak dikuasai bankir. Karena dengan memahami manajamen risiko, minimal seorang bankir mampu mengidentifikasi risiko-risiko yang tengah dihadapi, mampu mengukur sejauh mana dampak dari risiko tersebut dan kemudian mampu memantau serta mengendalikan risiko tersebut.

Categories: Manajemen Risiko

18 Responses so far.

  1. Wempi says:

    Bang Kir emang suka resiko…

    Bang Kir ada juga yang jual bakso

  2. Yoyo says:

    yang dibahas itu bankir atau broker Kang ?

    Bankir kang,….abang tukang parkir

  3. unai says:

    makin matap saja tulisannya..lama ndak mampir sini nih, apa kabar?

    Baik unai,….silahkan duduk dulu sambil minum teh hangat :)

  4. Rindu says:

    Bangkir itu abang nya siapa sih? halah …

    Abangnya kita semua,………:),..mksih dah mampir ya

  5. realylife says:

    wah , saya malah tertarik sama fotonya , koleksi di mana ya ?
    antik banget

    hahaha,..fotonya ya? itu koleksi lama, ga tahu alamtnya dimana,..jadi ga disebutin dari mana asalnya,….

  6. harfianto says:

    bangkir itu yang mana sih… salam kenal

    Salam kenal,……mari minum kopi dulu :)

  7. bobby says:

    Bankir merupakan salah satu profesi yang rentan terhadap risiko

    cuma penasaran aja bankir disini kira-kira pa ya?
    pemilik bank, pegawai bank, AO atau teller?
    atau seorang yang ngurusin keuangan orang lain?
    :)

    Bankir yang dimaksud dalam tulisan ini adalah setiap petugas/pejabat Bank yang berperan dan bertanggung jawab atas seluruh proses penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat, seperti: Account officer (AO), Funding Officer (FO), Teller, Pemimpin Cabang, Pemimin Divisi, Direksi sampai dengan pemilik Bank.

  8. Rita says:

    Foto.. Kalo liat penampakannya kayaknya sih itu foto zaman baheulak bgt, kayak penjaranya Napoleon Bonaparte hahah:D
    Kalo tukang bakso kudu taw management resiko juga ya mas…..hehehe…(srius ko’;)
    Kesimpulan…….Bankir….Bagi bankir yang blum paham betul prosedur, peraturan-peraturan yang mengikat secara intern maupun ekstern, Kudu Belajar Lebih Baik dan Menguasai, Memahami Management resiko.. (sok taw amat ya :))
    Bagi yang telah paham prosedur dan peraturan-peraturan, perbanyak dzikir, ibadah, pendekatan diri kepadaNya agar terhidar dari godaan “kemilau duniawi” (kayak pak ustdz aja) :)
    Untuk “Jan barumah di tapi pantai kok takuik diguluang ombak” artinya jangan be bankir kalo takut korupsi…. ehh salah, kalo takut resiko maksudnya :D
    Jd bukan lari dari resiko, melainkan harus di hadapi, menaklukkannya..( lah maksudnya apa ya???) akhhh udah ah… gak slese2 deh nantinya….

    Wah udah bisa jadi poostingan baru ne mbak,….maksih atas tambahannya

  9. boyhidayat says:

    hidup itu resiko toh ?

    Yups hidup juga risiko,….

  10. juliach says:

    kalo tak mo ambil resiko, suruh aja booking tanah sepetak …itu pun minta kredit…….

    hahahahaha,.. :)

  11. hidup saja kita sudah punya resiko. mati. kalau terlalu mempertimbangkan resiko, ya tak bisa hidup. hidup mengalir. pertimbangan resiko dengan nalar dan pengetahuan yang luas agaknya merupakan peran akal. menurut aliran pemikiran rasionalisme, semuanya adalah rasio. tetapi sebenarnya ada juga peran penuh misteri kekuatan hukum alam. cuma, menggali pengetahuan hukum alam butuh kearifan dalam membaca zaman. ini sebenarnya dilakukan oleh siapa saja, dengan mengasah naluri dan insting terhadap masa depan.

    Memang hidup tak kan lepas dari risiko,…dan risiko itu musti dihadapi,…ga mungkin dihilangkan,…..

  12. kalau takut ama resiko kapan majunya :D

  13. ubadbmarko says:

    Apa lagi setelah kenaikan BBM, Resiko dapur semakin rumit.

  14. realylife says:

    permisi nyari postingan terbaru
    misi

  15. Gung De says:

    Wah… image contentnya serem banget. Kaya Bang Kir yang lagi Bang Krut. :)
    Salam knal.

    Salam kenal kembali,….terimaksih telah mampir,..minum kopi dulu sambil ngerokok,….:)

  16. helidda says:

    mau tanya sekaliyan nih pak bangkir :)
    katanya sekarang aturan di perbangkirannya, setiap kolateral yang berupa aktiva tetab kudu diappraisal scr periyodik yah? benarkah? dan kalok benar, setiyab brapa tahunkah?
    trus katanya kolateral itu kudu diasuransikan juga yaak? :?

    maab… banyak tanyaaa.. komen nggak.. :mrgreen:

    Yah jadi ngasih rubrik tanya jawab neh,…….haahha,..saya coba deh Mas, mudah2an ga salah,…tapi jgn percaya bener lho,…:) yups memang bener neh mas,..sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) no 9/6/PBI/2007 tentang penilaian kualitas aktiva Bank umum, disalah satu pasalnya memang menyatakan penilaian agunan minimal dilakukan 1 kali dalam 2 tahun bagi kredit dengan kualitas lancar, dan 1 kali setahun bagi kredit yang mengalami pemburukan kualitas,…. dan penerapan ketentuan ini tentunya berbeda-beda antara 1 bank dengan bank lainnya, ada yg menjalankan sesuai dengan PBI dan ada pula Bank yang melakukan penilain agunan setiap tahunnya (lebih ketat).
    dan yups skali lagi, setiap agunan musti diasuransikan.

  17. helidda says:

    maangaab..skali lagi… males login, jd pinjem id istri :)

  18. erander says:

    Dalam dunia bisnis dikenal dengan istilah .. high risk, high return .. jadi kalo risiko nya tinggi, sepanjang hasil yang diperoleh juga tinggi .. biasanya tetap dijalankan. Masalahnya, kadang kala .. jeblok juga.

    Btw .. kaya’nya bener tuh .. bankir itu singkatan dari abang tukang parkir ya?

    hehehehe, abang tukang parkir yang kereennnn….:)

Leave a Reply


CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco

Komunitas Jiwa

  • Komunitas Blogger Sumbar
  • .
  • .
  • .