Antara Loyalitas, Gaji dan Bonus
Penyebab Utama seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaannya adalah karena ketidak puasan (Robbins, 1993)
Loyalitas karyawan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan suatu perusahaan. Selain sebagai mesin pendorong produktivitas, loyalitas juga dapat meningkatkan semangat dan komitmen karyawan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Dan tentunya untuk menciptakan suatu loyalitas tertinggi bukan merupakan hal yang gampang karena loyalitas tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar seseorang karyawan dibayar atau keuntungan apa saja yang akan diperolehnya. Memang benar gaji yang memadai diperlukan, tapi bukan itu satu-satunya alasan seseorang untuk bekerja.
Beberapa tahun terakhir ini, menurut Watson Wyatt, suatu perusahaan global consulting yang fokus pada human capital and financial management, perbankan tercatat sebagai industri dengan tingkat turn-over karyawan tertinggi yang hampir mencapai angka 13%. Hal ini selain disebabkan karena semakin maraknya bajak membajak karyawan, juga disebabkan oleh semakin banyaknya bank yang menerapkan strategi insentif dan bonus tinggi bagi karyawan yang benar-benar dinilai berprestasi.
Di satu sisi, hal itu menunjukkan perkembangan yang positif dalam kebutuhan akan karyawan terbaik dan penerapan sistem bonus di Tanah Air khususnya perbankan, namun perlu diwaspadai bahwa hal ini juga menunjukkan kebuntuan berpikir, sehingga mengambil jalan pintas dengan membeli karyawan yang dianggap sudah jadi dan memberikan iming-iming uang supaya karyawan mau bertahan di perusahaan. Dan tentunya hal seperti ini tidak akan berlangsung lama.
Terlalu fokus terhadap gaji dan bonus yang diberikan kepada karyawan demi mendapatkan produktivitas kerja bisa berakibat fatal. Itulah yang terjadi pada Wall Street Industries yang mengagung-agungkan bonus dan insentif. Makin besar bisnis yang bisa dikembangkan seorang karyawan, makin besar bonus dan insentif yang diterimanya. Besarnya bahkan sampai tidak terhingga tergantung dari seberapa besar bisnis yang dihasilkan.
Sistem ini telah membangkitkan ketamakan manusia sehingga menghalakan segala cara. Produk-produk palsu yang dibungkus dengan kreatifitas banyak diciptakan untuk meningkatkan fee dan bisnis perusahaan untuk mendapatkan bonus yang tidak terhingga. Akhirnya, industri keuangan tersebut mengakhiri ajalnya karena dikelola dengan “ketamakan”.
Jadi, bagaimana menciptakan karyawan yang memiliki loyalitas tinggi, yang memiliki ikatan kejiwaan dengan perusahaan, yang tahu bahwa jika dia menampilkan yang terbaik, maka perusahaan yang dicintainya itu akan berkembang pesat dan jika perusahaan berkembang pesat, dengan revenue dan profit yang baik, maka dengan sendirinya dia akan berkembang bersama-sama perusahaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita terlebih dahulu harus tahu apa penyebab karyawan menjadi tidak loyal.
Menurut Robbins (1993), penyebab utama ketidak loyalan karyawan terhadap perusahaannya adalah karena adanya ketidakpuasan atau dapat disimpulkan bahwa loyalitas sangat dipengaruhi oleh kepuasan karyawan.
Seorang karyawan akan puas pada saat dia diberikan tantangan dalam pekerjaannya (mentally Challengging work) sekaligus diberikan perhatian-perhatian yang manusiawi. Karyawan diberikan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasinya. Karyawan diberikan pekerjaan yang berarti, sehingga dapat mengaktualisasikan diri. Karyawan diberikan target-target yang cukup menantang, tidak gampang untuk dikerjakan tetapi juga masih mungkin untuk dicapai.
Seorang karyawan akan puas jika dia diberikan kesempatan untuk berkembang dan penghargaan yang sesuai (Equitable reward). Perusahaan tidak semata-mata meminta karyawan untuk bekerja keras, akan tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengasah diri, baik secara formal melalui program pelatihan maupun secara informal melalui coaching dan mentoring. Karyawan juga dihargai dengan diberikan promosi dan kedudukan yang lebih tinggi kalau dianggap mampu dan pantas.
Seorang karyawan akan puas jika dia diberikan otoritas dan kewenangan untuk mengambil keputusan sesuai dengan bidangnya (Supportive Working Condition). Karyawan tidak hanya disuruh melakukan ini dan itu. Namun, karyawan diberikan target-target yang menantang dalam bentuk Key Performance Indicator (KPI), lalu diberikan ruang dalam cara-cara mengerjakan dan mencapainya.
Seorang karyawan akan puas jika dia diberikan perhatian dan tidak diperlakukan sebagai robot dan mesin, tetapi sebagai layaknya manusia. Ditanya pendapatnya, diajak berdiskusi, diberikan empowerment. Juga tentunya disentuh dengan hal-hal yang bersifat pribadi, seperti membantunya dalam keadaan susah ataupun kemalangan, disamping faktor-faktor kepuasan lainnya, yang bisa mempengaruhi loyalitas karyawan.
Loyalitas karyawan tertinggi tercapai pada saat perusahaan dapat memberikan manfaat emosional dan spritual bagi karyawannya, yang akan menciptakan suatu keterikatan yang kuat yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dengan semangat yang tinggi, jiwa yang menyatu, employee engagement merupakan mantra bagi perusahaan untuk berkembang dan maju.
Subscribe to the RSS feed and have all new posts delivered straight to you.




![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)
Saya sepakat dengan semua yang abang tuangkan dalam tulisan ini, terlebih dalam dunia perbankan, bajak membajak pegawai sudah biasa bang. Tentunya hal ini tidak akan terjadi jika perusahaan ataupun bank memberikan perhatian dan kesejahteraan yang lebih terhadap karyawan.
wah saya baru pertama kali berkunjung mendapat pencerahan yang bagus
salam kenal mas
Biasanya karyawan akan loyal terhadap perusahaannya bila terpenuhi semua kebutuhannya, seperti: gaji tiap tahun naik minimal 30% (mimpi kali…
, bonus tahunan 10x gaji (mimpi lagi….), jaminan kesehatan terpenuhi, mobil, rumah, promosi jabatan yang fair.
Kalo itu semua tepenuhi dijamin karyawan loyal and berprestasi. Kalau nggak juga punishment bicara..
Iyolah ndan…
Sistem den tambah Error..
Perlu setahun memperbaikinyo Ko..
Perlu diinstall ulang…
Ketidakloyalan karyawan pada umumnya memang bersumber daripada ketidakpuasan pada perusahaannya. Walaupun gaji dan karier yang tidak jelas biasanya merupakan sumber ketidakpuasan karyawan namun karena manusia adalah makhluk yang kompleks maka ketidakpuasan juga bisa timbul dari masalah2 di lingkungan kerja yang dapat mengganggu psikologis karyawan, seperti pembatasan membuat keputusan, pembatasan kreativitas dsb.
Orang Jepang cenderung untuk setia pada perusahaan sementara orang Amerika lebih cenderung pada profesinya. Jikalau profesinya “dilecehkan” dengan memasung kewenangan ataupun keahliannya maka orang Amerika biasanya langsung komplain berat dan bisa jadi berujung kepada pengunduran diri dari perusahaan tersebut. Bagaimana dengan di Indonesia? Karena mencari pekerjaan di negeri ini relatif lebih sulit, maka biasanya karyawan akan terpaksa sedikit banyak “menerima” dengan sedikit keterpaksaan.
Walau begitu, sebaiknya manajemen di Indonesia juga memikirkan kepuasan karyawan dengan memperhatikan emosi dan spiritualnya, ini tentu saja penting karena lingkungan kerja yang sehat akan menghasilkan karyawan yang sehat pula dan tentu saja akhirnya akan menghasilkan perusahaan yang sehat pula… bukan hanya sehat finansial tetapi yang sama penting juga sehat lingkungan kerja…..
memang mengatur manusia lbh sulit drpada mengatur mesin
emang jaman sekarang kalo jadi karyawan di perusahaan profit bentuk bonusnya apaan tuh pakk
loyalitas persahabatan yg blue eratkan pada om tak akan terlepaskan
salam hangat selalu
met menikmati minggunya hari ya
pa cabar?
walaupun loyalitas seorang karyawan sangat dipengaruhi oleh kepuasan, namun kepuasan ini bukan variabel yang gampang diukur. banyak faktor yang mempengaruhinya, semisal secara intrinsik yakni karakter karyawan sendiri. ada yang lebih suka tantangan ketimbang berada dalam zona nyaman yang bagi pandangan awam sudah pasti mendatangkan kepuasan.
sesetengah orang mengatakan bahwa seorang karyawan hanya dapat bertahan selama paling lama 8 tahun bekerja di perusahaan (atau posisi?) yang sama. bukan data empiris saya pikir. tapi apakah benar, da?
heheh kemarin kemarin saya tentang kepuasan kerja nih skripsinya! ironisnya adalah ambil kasus di kantor… dan ga lama setelah lulus ketidakpuasan demi ketidakpuasan melanda dan akhirnya memutuskan buat resign! hm.. masih belum dapat gantinya
biarlah… yang penting cari yang benar bisa memberikan kepuasan… dan ga sedang cuma bicara soal gaji saja..
setuju banget ma tulisan ini
Blog mas avartara ini pernah jadi referensi saya waktu skripsi tentang loyalitas
btw, kalo di tempat saya, loyalitas diukur dengan ikatan dinas yang sepihak.. itu bagi mereka loyalitas kita ke mereka. jadi kita gak bisa ‘teriak’.
Kalau Bagi saya sih.. mungkin didalam lingkungan kerja itu ada rekan-rekan yang selalu membantu bila kita kesusahan. Bahu membahu, kalau dulu istilahnya gotong-royong (entah sekarang masih ada atau tidak) rekan-rekan yang baik ini memberikan kenyamanan kerja, sehingga hasil kerja pun lebih baik. Karena banyak mata lebih baik dari sepasang mata kan. Selain itu untuk saya pribadi adalah teknologi dan workload. Kalau workload terlalu sedikit kurang indah… rasanya waktu lama sekali…But thanks anyway for the input..
trims infonya bermanfaat,,, salam kenal
Membina karyawan untuk terus bekerja terhadap perusahaan merupakan “seni” yang dimiliki oleh para HR. Gimanapun juga karyawan juga manusia, mesti terus dipantau.
[...] sudah jamak dilakukan, namun disini tingkat perpindahan karyawan masih sangat rendah sekali. Bukan loyalitas yang menjadi satu-satunya kriteria, tapi mempertahankan comfort zone itu yang lebih terkemuka. [...]