Sudah menjadi pemandangan biasa setiap pulang kerja tepatnya diperempatan jalan Pemuda dan M. Yamin depan Plaza Andalas Padang, selalu dipenuhi anak-anak jalanan, mulai dari yang berumur 7 tahunan sampai 18-an. Selama beberapa tahun melewati jalan ini, saya rasa jumlah anak jalanan semakin bertambah, dan semakin parah. 2 tahun yang lalu saat saya pertama kali melewati jalan itu sepulang ngantor, jumlah anak jalanan baru sekitar 2-3 orang, tapi saat ini jumlah anak jalanan yang nongkrong bareng di perempatan itu sudah mencapai belasan anak.
Dengan profesi yang berbeda-beda, mulai dari pengamen sampai dengan peminta-minta, dengan asal daerah yang berbeda, dan dengan alasan yang berbeda pula yang membuat mereka harus rela terlempar kejalanan. Tentunya itu adalah pilihan terakhir bagi mereka, dan saya yakin menjadi anak jalanan bukanlah cita-cita yang mereka idamkan. Jalanan bukanlah tempat yang aman bagi pertumbuhan mereka karena pengaruh negatif seperti narkoba, tindak kriminal seperti merampok dan mencopet dengan mudahnya dapat merasuk dalam perilaku mereka.
Berdasarkan data, seorang anak jalanan bisa mendapatkan sekitar dua puluh sampai empat puluh ribu rupiah perhari. Kalau masih punya orangtua, uang itu mungkin untuk keluarga. Tapi dalam banyak kasus, uang itu harus disetor ke koordinator yang mencari keuntungan dari kesusahan anak-anak jalanan itu. Beberapa anak mempergunakan uang itu untuk menyambung hidup, selain untuk biaya sekolah. Namun ada juga memakainya untuk main judi, mabuk, ngelem, bahkan untuk beli narkoba.
Ironisnya, uang yang kita berikan bisa saja digunakan untuk hal-hal negatif dan merugikan mereka, dan bahkan uang yang didapat dengan begitu mudahnya membuat mereka malas dan semakin bodoh dan berdasarkan beberapa penilitian, salah satu alasan dominan mengapa anak jalanan kembali kejalan setelah ditanggung biaya hidupnya adalah karena memang lebih enak dan gampang mendapatkan uang di jalanan.
Untuk itu kita perlu sebuah kesadaran baru untuk tidak memberi uang secara langsung pada anak jalanan. Tapi memberikan mereka sebuah kesempatan. Salah satunya adalah dengan membantu mereka dalam pendampingan bimbingan belajar, atau memberi kesempatan mereka untuk sekolah lagi dengan beasiswa, atau bimbingan untuk mengikutsertakannya dalam ujian persamaan untuk anak yang sudah melewati batas usia sekolah. Uang yang akan kita berikan ke mereka sebaiknya di konversi menjadi beasiswa.
Seperti yang dilakukan rekan-rekan disini, mungkin hal ini bisa kita lakukan di lingkungan kita sendiri, ajaklah rekan-rekan yang memiliki kepedulian, saatnya kita berbagi demi anak bangsa yang ter-telantarkan oleh kejamnya globalisasi.
Gambar seorang anak jalanan, yang mencoba meraih ilmu,…hasil jepretan sahabat






![avartara[dot]com](http://feeds.feedburner.com/avartara/ozDP.1.gif)

Kalo kata orang bijak, berikan kailnya agar dia tau bagaimana cara menggunakan, dan mendapatkan hasil sesui kebutuhan…..Seperti, memberikan beasiswa tadi, rumah tinggal, pelatihan2 utk mengasah talent yang mereka miliki., dan mumgkin sedikit aturan (tindak disiplin) yang dapat menahan mereka agar tidak kembali ke jalan…

Salut atas rekan2 mas, moga apa yg diharapkan dapat tercapai…. sukes!
Oya mas izin majang fotonya di Model’s CO (at header) blogku, thax…
menggugah kepedulian kita terhadap anak bangsa ini……..hal kecil yg kita lakukan buat mereka sangat besar artinya bagi mereka..
ehmmm, jadi malu sma diri sendiri nich soalnya masih bisa bicara saja belum ada aksi
ayo.. kita tingkatkan kepedulian
Syukurilah hidup kita..

negeri ini bukan saja salah urus. tapi juga buta urus. ada dinas sosial, entah bagaimana program untuk hal seperti ini tak pernah membawa hasil maksimal menyapu anak-anak dari jalanan. saya curiga, jangan dipelihara terus agar terus ada proyeknya… maaf, saya orang media. media tempat saya berkhidmat sudah sering sekali memberitakannya agar ada perubahan. tetapi perubahan tidak serta merta oleh satu pihak saja. ada banyak dana yang dialokasi untuk memberantas kemiskinan, yang namanya kemiskinan tetap ada. bahkan menjadi isu laku untuk musim pilkada. berbuat banyak dari ruang kemampuan yang ada, rasanya naif. kecuali kalau mereka sudah angkat tangan. orang yang jelas-jelas bertugas berkewajiban untuk itu saja tidak berbuat apa-apa padahal sudah ada aturan dan undang-undang yang mengaturnya. ingat! dana sosial kita berlimpah…. yang namanya anak jalanan tetap ada. heran… aku heran… aku heran…. inilah negeriku tercinta…
hmm saatnya kita berbagi dan peduli
anak jalanan, kehidupannya keras. tidak ada kasih sayang,
http://imoe.wordpress.com/2008/06/26/mengunjungi-teman-lama-anak-jalanan-padang/
tatapi hasil pengamatan saya ini adalah produk dari kemiskinan dinegri kita, ditempat saya ada seorang tukang bangunan dengan enam orang anak masih kecil-kecil, buat biaya hidup ngandelin upah kuli ga cukup, yang paling gampang ya nyuruh anak-anaknya kejalan, omset mereka bisa mencapai puluhan ribu rupiah perhari, jadi bapaknya yang tukang bangunan aja kalah. lebih hebatnya lagi kalo ada yang ngasih ramsum ga sama daging ga mau makan.
salam kenal juga pak, senang mengenal bapak yang juga peduli….
Malu saya.. baru bisa bermimpi, sementara yang lain sudah melakukan aksi peduli seperti di komunitas rumah pelangi itu… sukses!
itu eksploitasi anak..
seperti sebuah dilema untuk saya saat memberikan uang kepada mereka. benarkah uang ini untuknya??
anak jalanan bukan sampah…
mari bro kita tuntun kejalan yang benar2 bermanfaat bwat negri yang tercinta….
salam nal bro.
makasih dah mau menulis tentang dunia yang sebenarnya ada dihadapan kita tapi tak pernah kita hiraukan. makasih juga telah membaca bagian dari ketidak berdayaan ilmu yang ku miliki. makasih untuk segalanya merupakan awal dari kesadaran dari kita ntuk kita.maaf jika tak ada nilai yang baik dari segala kalimat yang ku tulis.maaf
akhir2 ini uni juga sering mikir ttg anak jalanan ini, soale tiap hari bertemu, sampai mimpi punya rumah singgah, tp gak punya dana…
Bentar lagi Ramadhan … kita buat kegiatan sosial yok mas